Selasa, 17 Februari 2026

Kajian Imiah - HISAB DAN RUKYAT: DUA METODE, SATU LANDASAN ILMIAH (Telaah Epistemologis dan Astronomis atas Penetapan Awal Bulan Hijriah)



Abstrak

Dalam diskursus kontemporer, berkembang anggapan bahwa metode hisab lebih maju karena berbasis teknologi dan sains, sementara rukyat dianggap tradisional dan kurang mengikuti perkembangan zaman. Artikel ini membantah dikotomi tersebut dengan menunjukkan bahwa baik hisab maupun rukyatul hilal sama-sama bertumpu pada ilmu astronomi modern. Perbedaannya bukan pada kemajuan atau kemunduran metodologis, melainkan pada titik verifikasi: hisab menetapkan kemungkinan eksistensi hilal, sedangkan rukyat memastikan keterlihatan aktualnya.


Pendahuluan

Penetapan awal bulan Hijriah, terutama Ramadan dan Syawal, selalu menjadi topik diskusi di dunia Islam. Dalam konteks Indonesia, perbedaan pendekatan sering dikaitkan dengan organisasi seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Sebagian kalangan memandang hisab sebagai metode yang lebih ilmiah karena menggunakan perhitungan matematis dan teknologi astronomi. Sebaliknya, rukyatul hilal dianggap sebagai metode klasik yang kurang adaptif terhadap kemajuan sains. Pandangan ini perlu ditinjau ulang secara akademik.


Landasan Astronomis: Ilmu yang Sama

Baik hisab maupun rukyat sama-sama menggunakan data astronomi yang identik, meliputi:

  • Konjungsi (ijtimak)

  • Tinggi bulan (altitude)

  • Elongasi bulan-matahari

  • Umur bulan

  • Sudut cahaya (illumination)

  • Parameter visibilitas hilal

Dalam praktiknya, bahkan rukyatul hilal modern tidak lagi dilakukan secara “kasat mata tanpa ilmu”, melainkan berdasarkan kriteria astronomi yang terukur, seperti standar yang dikembangkan dalam forum regional MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura).

Artinya, perukyat pun menggunakan teleskop, kamera CCD, perangkat lunak astronomi, dan data ephemeris sebelum melakukan observasi. Tanpa perhitungan hisab, rukyat tidak akan efektif, karena lokasi dan waktu pengamatan harus ditentukan secara presisi.

Dengan demikian, secara epistemologis, rukyat bukan anti-sains, dan hisab bukan satu-satunya metode ilmiah.


Perbedaan Epistemologis: Prediksi vs Verifikasi

Perbedaan mendasar terletak pada fungsi metodologisnya:

Hisab

  • Bersifat prediktif

  • Menentukan kemungkinan wujud atau posisi hilal

  • Dapat menghasilkan kalender jauh hari sebelumnya

Rukyatul Hilal

  • Bersifat verifikatif

  • Memastikan hilal benar-benar terlihat

  • Menjadikan observasi empiris sebagai konfirmasi akhir

Dalam ilmu pengetahuan modern, prediksi dan verifikasi adalah dua tahap yang sama-sama ilmiah. Astronomi pun mengenal perhitungan teoritis sekaligus observasi teleskopik untuk memastikan kebenaran prediksi.

Dengan kata lain:
Hisab menghitung kemungkinan terlihatnya hilal.
Rukyat memastikan keterlihatan aktualnya.

Keduanya bukan kompetitor, melainkan dua pendekatan dalam kerangka ilmiah yang sama.


Perspektif Fiqh dan Metodologi

Dalam literatur fiqh klasik, perbedaan ini masuk dalam ranah ijtihad. Dalil hadis tentang “berpuasalah karena melihatnya” ditafsirkan dengan pendekatan berbeda oleh para ulama.

Sebagian menekankan makna literal penglihatan (rukyat), sementara sebagian lain memandang perhitungan astronomi sebagai bentuk perluasan makna penglihatan dalam konteks perkembangan ilmu.

Perbedaan ini mirip dengan kasus qunut Subuh:
Ada yang melakukannya, ada yang tidak, dan keduanya memiliki dalil kuat. Maka persoalan ini bukan soal benar dan salah mutlak, tetapi variasi metodologis dalam koridor syariat.


Kritik terhadap Dikotomi “Maju vs Ketinggalan Zaman”

Menganggap hisab lebih maju dan rukyat ketinggalan zaman adalah bentuk reduksi ilmiah karena:

  1. Rukyat modern menggunakan teknologi astronomi canggih.

  2. Hisab sendiri lahir dari tradisi observasi berabad-abad.

  3. Keduanya sama-sama bertumpu pada ilmu falak.

  4. Dalam metodologi sains, observasi tetap menjadi pilar utama.

Bahkan dalam astronomi modern, data observasi diperlukan untuk memvalidasi model matematis. Tanpa observasi, teori tetap hipotesis.


Kesimpulan

Anggapan bahwa hisab lebih maju dan rukyat ketinggalan zaman tidak berdasar secara ilmiah.

Keduanya:

  • Menggunakan ilmu astronomi yang sama

  • Bertumpu pada data dan perhitungan modern

  • Berbeda pada titik metodologis: prediksi vs verifikasi

Perbedaan ini adalah perbedaan pendekatan, bukan perbedaan antara sains dan anti-sains.

Karena itu, diskursus seputar penetapan awal bulan Hijriah seharusnya ditempatkan dalam kerangka dialog ilmiah dan fiqhiyah, bukan dalam dikotomi modernitas versus tradisionalitas.

Depok, 17 Februari 2026


ARTIKEL LAIN

Kajian Ilmiah - Dinamika Implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT): Analisis Astronomis dan Fikih atas Potensi Perbedaan Internal

https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-dinamika-implementasi.html

Kajian Ilmiah - Analisis Ilmiah Penentuan Awal Ramadhan 1447 H Terkait Isu Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-analisis-ilmiah-penentuan.html

Kajian Ilmiah - Perkiraan 1 Ramadhan 1447 H di Indonesia: Tinjauan Berbagai Metode Penetapan Awal Bulan
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-perkiraan-1-ramadhan-1447.html

Kajian Ilmiah - Penyebab Perbedaan Penetapan Hari-Hari Besar Islam di Indonesia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-penyebab-perbedaan.html

Kajian Ilmiah - Menentukan Masuknya Waktu Dzuhur dengan Bayangan Matahari
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-menentukan-masuknya-waktu.html

Kajian Ilmiah - Tantangan Kalender Hijriyah Global Tunggal
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-tantangan-kalender.html

Kajian Ilmiah - Penentuan Arah Kiblat dengan Metode Great Circle
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/penentuan-arah-kiblat-dengan-metode.html

Kajian Ilmiah - Ilmu Astronomi dalam Islam
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-ilmu-astronomi-dalam-islam.html

Kajian-ilmiah-Mengenal Kalender Aboge
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-mengenal-kalender-aboge_7.html

Kajian Ilmiah - Panjang Bayangan Waktu Dzuhur di Beberapa Kota di Dunia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/panjang-bayangan-waktu-dhuhur-di.html

Kajian Ilmiah - Memahami Penetapan Awal Waktu Shalat Ashar
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/memahami-penetapan-awal-waktu-shalat.html


Tidak ada komentar:

✨ Tentang Penulis ✨

Di balik angka, teori, dan bintang-bintang, selalu ada manusia yang mencari makna. Siapakah dia?
Baca biografinya...

Mohon Dimengerti

Silakan copas dan publikasi ulang, tapi mohon jangan mengubah alamat-alamat link yang ada di dalam artikel dan mohon cantumkan sumbernya blog FISIKA DI SEKITAR KITA.
Penulis tidak bertanggung jawab atas segala isi hasil copas yang dipublikasikan tersebut. Karena bisa saja Penulis baru menyadari ada kekeliruan dalam artikel dan merevisinya, untuk itu mohon komunikasinya.
Terima kasih atas pengertiannya.

Postingan Populer