Pendahuluan
Peristiwa gerhana bulan yang terjadi pada 3 Maret 2026 kembali memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Sebagian pihak berpendapat bahwa jika gerhana terjadi pada tanggal tersebut, maka secara otomatis ia harus bertepatan dengan tanggal 15 Ramadhan karena gerhana bulan hanya terjadi saat bulan purnama.
Dengan asumsi itu, muncul klaim bahwa bila awal Ramadhan ditetapkan pada 19 Februari 2026, maka 3 Maret 2026 bertepatan dengan 14 Ramadhan—sehingga dianggap keliru karena gerhana “seharusnya” terjadi pada tanggal 15.
Artikel ini bertujuan menjelaskan secara ilmiah dan fikih bahwa dalam sistem kalender komariah, fase purnama maupun gerhana bulan dapat terjadi pada tanggal 14 atau 15 (bahkan bisa bergeser), dan hal tersebut tidak dapat dijadikan dalil untuk membenarkan atau menyalahkan penetapan awal Ramadhan.
Gerhana Bulan dalam Perspektif Astronomi
Gerhana bulan terjadi ketika Matahari–Bumi–Bulan berada dalam satu garis lurus, dengan Bumi berada di tengah sehingga bayangannya menutupi Bulan. Secara astronomis, gerhana bulan hanya mungkin terjadi saat fase bulan purnama (full moon).
Pada 3 Maret 2026 memang terjadi gerhana bulan (data astronomis global menunjukkan terjadinya gerhana bulan pada tanggal tersebut). Namun perlu dipahami:
Fase purnama ditentukan oleh posisi sudut Matahari–Bumi–Bulan (elongasi 180°).
Fase ini terjadi pada waktu tertentu secara astronomis (jam-menit-detik UT).
Kalender Hijriyah berbasis pada sistem hari yang dimulai saat matahari terbenam (maghrib), bukan tengah malam.
Dengan demikian, momen astronomis purnama bisa terjadi sebelum atau sesudah pergantian tanggal Hijriyah.
Sistem Hari dalam Kalender Hijriyah
Dalam kalender komariah (Hijriyah):
Pergantian hari terjadi saat matahari terbenam.
Satu bulan terdiri dari 29 atau 30 hari.
Penentuan awal bulan didasarkan pada rukyat hilal atau hisab sesuai kriteria yang dianut.
Artinya, tanggal Hijriyah tidak identik dengan tanggal astronomis universal (UTC). Perbedaan waktu beberapa jam saja dapat memindahkan momen purnama dari tanggal 14 ke tanggal 15, atau sebaliknya.
Sebagai contoh:
Jika purnama terjadi sebelum maghrib tanggal 14, maka secara Hijriyah ia termasuk 14 Ramadhan.
Jika terjadi setelah maghrib, maka ia masuk 15 Ramadhan.
Perbedaan zona waktu antarnegara juga memengaruhi tanggal lokal kejadian tersebut.
Realitas Astronomis: Purnama Tidak Selalu Tepat di Tanggal 15
Dalam praktik astronomi modern, fase purnama tidak selalu bertepatan persis dengan tanggal 15 Hijriyah. Secara teoritis, rata-rata fase purnama memang berada di pertengahan bulan (sekitar hari ke-14,77 sejak ijtimak). Namun angka ini adalah nilai rata-rata, bukan angka tetap.
Karena panjang bulan sinodik rata-rata adalah 29,53059 hari, maka:
Purnama bisa terjadi pada tanggal 14
Bisa juga tanggal 15
Bahkan dalam kondisi tertentu mendekati perbatasan tanggal
Secara historis dan empiris, data kalender Hijriyah menunjukkan bahwa purnama memang sering jatuh pada 14 atau 15, dan keduanya sah secara astronomis.
Analisis Kasus 3 Maret 2026
Mari kita lihat dua skenario:
Skenario A: Awal Ramadhan 18 Februari 2026, maka 3 Maret 2026 = 15 Ramadhan.
Skenario B: Awal Ramadhan 19 Februari 2026, maka 3 Maret 2026 = 14 Ramadhan.
Apakah skenario B otomatis salah?
Tidak.
Karena:
Gerhana bulan terjadi saat purnama.
Purnama bisa terjadi pada 14 atau 15 Hijriyah.
Perbedaan satu hari awal Ramadhan akan menggeser seluruh penanggalan bulan itu.
Secara astronomis, tidak ada kewajiban bahwa purnama harus selalu jatuh pada tanggal 15 dalam sistem kalender berbasis rukyat.
Dengan kata lain, gerhana bulan tidak dapat dijadikan alat verifikasi mutlak untuk menentukan benar atau salahnya awal Ramadhan, kecuali jika terjadi penyimpangan sangat ekstrem (misalnya gerhana terjadi pada tanggal 10 atau 20 Hijriyah, yang secara astronomis mustahil).
Perspektif Fikih
Dalam literatur fikih klasik, para ulama menyebut malam purnama dengan istilah ayyam al-bidh (hari-hari putih), yang biasanya dikaitkan dengan tanggal 13, 14, dan 15. Ini menunjukkan bahwa cahaya penuh bulan berlangsung dalam rentang tiga hari tersebut.
Artinya:
Secara fikih pun tidak ada ketentuan bahwa purnama harus tepat tanggal 15.
Tradisi puasa ayyam al-bidh justru mengakui adanya rentang fase terang bulan.
Hal ini memperkuat bahwa fenomena gerhana pada 14 atau 15 Ramadhan sama-sama mungkin dan tidak bertentangan dengan syariat.
Kesimpulan Ilmiah
Gerhana bulan hanya terjadi saat purnama, tetapi purnama dalam kalender Hijriyah bisa jatuh pada tanggal 14 atau 15.
Sistem pergantian hari dalam kalender Hijriyah dimulai saat maghrib, bukan tengah malam.
Perbedaan satu hari dalam penetapan awal Ramadhan secara otomatis akan menggeser seluruh tanggal, termasuk tanggal purnama.
Tidak ada dasar astronomis maupun fikih yang menyatakan bahwa gerhana harus selalu terjadi tepat tanggal 15 Hijriyah.
Oleh karena itu, klaim bahwa awal Ramadhan 19 Februari 2026 pasti salah karena gerhana terjadi tanggal 14 Ramadhan adalah tidak berdasar secara ilmiah.
Penutup
Fenomena astronomi tidak dapat dipaksakan untuk mengikuti persepsi numerik kalender secara kaku. Kalender Hijriyah adalah sistem berbasis observasi hilal dan perhitungan bulan sinodik, bukan sistem yang mengunci fase purnama pada angka tertentu.
Maka, gerhana bulan 3 Maret 2026 yang jatuh pada 14 atau 15 Ramadhan—tergantung metode penetapan awal bulan—adalah hal yang sepenuhnya wajar dalam sistem komariah.
Perdebatan semacam ini seharusnya menjadi momentum edukasi astronomi dan fikih, bukan alat untuk menggiring opini atau menyalahkan pihak lain.
Depok, 17 Februari 2026
ARTIKEL LAIN
Kajian Imiah - HISAB DAN RUKYAT: DUA METODE, SATU LANDASAN ILMIAH (Telaah Epistemologis dan Astronomis atas Penetapan Awal Bulan Hijriah)
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-imiah-hisab-dan-rukyat-dua.html
Kajian Ilmiah - Dinamika Implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT): Analisis Astronomis dan Fikih atas Potensi Perbedaan Internal
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-dinamika-implementasi.html
Kajian Ilmiah - Analisis Ilmiah Penentuan Awal Ramadhan 1447 H Terkait Isu Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-analisis-ilmiah-penentuan.html
Kajian Ilmiah - Perkiraan 1 Ramadhan 1447 H di Indonesia: Tinjauan Berbagai Metode Penetapan Awal Bulan
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-perkiraan-1-ramadhan-1447.html
Kajian Ilmiah - Penyebab Perbedaan Penetapan Hari-Hari Besar Islam di Indonesia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-penyebab-perbedaan.html
Kajian Ilmiah - Menentukan Masuknya Waktu Dzuhur dengan Bayangan Matahari
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-menentukan-masuknya-waktu.html
Kajian Ilmiah - Tantangan Kalender Hijriyah Global Tunggal
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-tantangan-kalender.html
Kajian Ilmiah - Penentuan Arah Kiblat dengan Metode Great Circle
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/penentuan-arah-kiblat-dengan-metode.html
Kajian Ilmiah - Ilmu Astronomi dalam Islam
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-ilmu-astronomi-dalam-islam.html
Kajian-ilmiah-Mengenal Kalender Aboge
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-mengenal-kalender-aboge_7.html
Kajian Ilmiah - Panjang Bayangan Waktu Dzuhur di Beberapa Kota di Dunia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/panjang-bayangan-waktu-dhuhur-di.html
Kajian Ilmiah - Memahami Penetapan Awal Waktu Shalat Ashar
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/memahami-penetapan-awal-waktu-shalat.html




.png)


