Pendahuluan
Penentuan awal bulan dalam kalender hijriyah merupakan kajian yang menggabungkan aspek syariat Islam dan ilmu astronomi modern. Di banyak negara Muslim, termasuk Indonesia, penentuan awal bulan hijriyah dilakukan menggunakan metode hisab dan rukyat yang telah distandardisasi secara ilmiah dan kelembagaan.
Belakangan beredar isu bahwa 1 Ramadhan 1447 H seharusnya jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, dengan alasan pada 17 Februari 2026 terjadi gerhana matahari cincin yang dianggap sebagai tanda masuknya bulan baru. Artikel ini bertujuan mengkaji klaim tersebut berdasarkan pendekatan astronomi dan metode penentuan awal bulan hijriyah yang digunakan secara resmi.
Metode Penentuan Awal Bulan Hijriyah yang Diakui
Secara umum terdapat beberapa metode yang dikenal dalam penentuan awal bulan hijriyah, yaitu:
Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)
Wujudul Hilal
Imkanur Rukyat
Rukyatul Hilal
Dalam praktik di Indonesia, penetapan awal bulan melibatkan otoritas keagamaan dan negara, antara lain:
Kementerian Agama Republik Indonesia
Nahdlatul Ulama
Muhammadiyah
Meskipun terdapat perbedaan teknis, semua metode tersebut berlandaskan parameter posisi geometris bulan terhadap matahari dan bumi, bukan fenomena gerhana.
Fenomena Gerhana Matahari Cincin dalam Perspektif Astronomi
Gerhana matahari cincin terjadi ketika:
Bulan berada di antara bumi dan matahari (fase bulan baru / new moon).
Namun ukuran sudut bulan lebih kecil daripada matahari sehingga terbentuk cincin cahaya matahari.
Secara astronomi, gerhana matahari selalu terjadi sangat dekat dengan waktu konjungsi (ijtimak). Artinya, berbeda dengan gerhana bulan, gerhana matahari memang berkaitan langsung dengan fase bulan baru.
Namun penting dipahami bahwa:
Tidak setiap ijtimak menghasilkan gerhana matahari.
Tidak setiap gerhana matahari dapat dijadikan dasar penentuan awal bulan hijriyah.
Hubungan Ijtimak dan Awal Bulan Hijriyah
Memang benar bahwa gerhana matahari menandakan bulan berada sangat dekat dengan posisi konjungsi. Namun dalam praktik penanggalan hijriyah, ijtimak saja tidak cukup.
Dalam metode wujudul hilal, awal bulan ditentukan jika:
Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam.
Saat matahari terbenam, bulan sudah berada di atas ufuk.
Dalam metode imkanur rukyat, syaratnya lebih ketat, yaitu mempertimbangkan kemungkinan hilal dapat dirukyat secara optik.
Dengan demikian, keberadaan gerhana matahari tidak otomatis berarti hilal sudah memenuhi syarat sebagai awal bulan.
Analisis Kasus 17 Februari 2026
Dalam isu yang beredar disebutkan:
17 Februari 2026 terjadi gerhana matahari cincin.
Kemudian diasumsikan 18 Februari 2026 otomatis menjadi 1 Ramadhan.
Secara ilmiah perlu dianalisis:
1. Waktu Ijtimak vs Waktu Matahari Terbenam
Jika ijtimak terjadi setelah matahari terbenam, maka menurut wujudul hilal belum masuk bulan baru.
2. Posisi Hilal Saat Maghrib
Walaupun ijtimak terjadi siang hari, belum tentu saat maghrib hilal sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian yang memenuhi kriteria imkan rukyat.
3. Lokasi Geografis
Awal bulan hijriyah bergantung pada lokasi pengamatan. Gerhana matahari hanya terlihat di jalur tertentu di permukaan bumi, sehingga tidak bisa menjadi indikator global.
Kesalahan Interpretasi yang Sering Terjadi
Beberapa kekeliruan pemahaman yang sering muncul di masyarakat:
Menganggap semua fenomena langit dapat dijadikan tanda pergantian bulan hijriyah.
Menganggap gerhana matahari pasti berarti masuk bulan baru secara kalender hijriyah.
Mengabaikan parameter hilal saat matahari terbenam.
Padahal secara ilmu falak modern, parameter utama tetap:
Waktu ijtimak
Tinggi bulan saat matahari terbenam
Elongasi bulan-matahari
Umur bulan
Implikasi Fikih dan Ilmu Falak Modern
Baik metode rukyat maupun hisab modern tidak menggunakan fenomena gerhana sebagai indikator awal bulan. Gerhana hanya merupakan fenomena konsekuensi posisi geometris tertentu dalam sistem bumi–bulan–matahari.
Dalam praktik resmi, keputusan tetap mengacu pada data astronomi posisi hilal dan kriteria visibilitas hilal.
Kesimpulan
Berdasarkan kajian astronomi dan metodologi penentuan awal bulan hijriyah, dapat disimpulkan bahwa:
Gerhana matahari cincin memang terjadi dekat dengan fase bulan baru.
Namun gerhana matahari bukan parameter resmi penentuan awal bulan hijriyah.
Dalam metode wujudul hilal, ijtimak harus terjadi sebelum matahari terbenam dan hilal sudah berada di atas ufuk saat maghrib.
Penentuan awal Ramadhan tidak bisa hanya didasarkan pada adanya gerhana matahari.
Dengan demikian, menganggap bahwa terjadinya gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026 otomatis menjadikan 18 Februari 2026 sebagai 1 Ramadhan 1447 H adalah kesimpulan yang tidak tepat secara metodologis maupun astronomis.

.png)










