Selasa, 17 Februari 2026

Kajian Ilmiah - Gerhana Bulan 3 Maret 2026 dan Isu 14 atau 15 Ramadhan: Telaah Astronomis dan Fikih Kalender Komariah

 


Pendahuluan

Peristiwa gerhana bulan yang terjadi pada 3 Maret 2026 kembali memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Sebagian pihak berpendapat bahwa jika gerhana terjadi pada tanggal tersebut, maka secara otomatis ia harus bertepatan dengan tanggal 15 Ramadhan karena gerhana bulan hanya terjadi saat bulan purnama.

Dengan asumsi itu, muncul klaim bahwa bila awal Ramadhan ditetapkan pada 19 Februari 2026, maka 3 Maret 2026 bertepatan dengan 14 Ramadhan—sehingga dianggap keliru karena gerhana “seharusnya” terjadi pada tanggal 15.

Artikel ini bertujuan menjelaskan secara ilmiah dan fikih bahwa dalam sistem kalender komariah, fase purnama maupun gerhana bulan dapat terjadi pada tanggal 14 atau 15 (bahkan bisa bergeser), dan hal tersebut tidak dapat dijadikan dalil untuk membenarkan atau menyalahkan penetapan awal Ramadhan.


Gerhana Bulan dalam Perspektif Astronomi

Gerhana bulan terjadi ketika Matahari–Bumi–Bulan berada dalam satu garis lurus, dengan Bumi berada di tengah sehingga bayangannya menutupi Bulan. Secara astronomis, gerhana bulan hanya mungkin terjadi saat fase bulan purnama (full moon).

Pada 3 Maret 2026 memang terjadi gerhana bulan (data astronomis global menunjukkan terjadinya gerhana bulan pada tanggal tersebut). Namun perlu dipahami:

  • Fase purnama ditentukan oleh posisi sudut Matahari–Bumi–Bulan (elongasi 180°).

  • Fase ini terjadi pada waktu tertentu secara astronomis (jam-menit-detik UT).

  • Kalender Hijriyah berbasis pada sistem hari yang dimulai saat matahari terbenam (maghrib), bukan tengah malam.

Dengan demikian, momen astronomis purnama bisa terjadi sebelum atau sesudah pergantian tanggal Hijriyah.


Sistem Hari dalam Kalender Hijriyah

Dalam kalender komariah (Hijriyah):

  • Pergantian hari terjadi saat matahari terbenam.

  • Satu bulan terdiri dari 29 atau 30 hari.

  • Penentuan awal bulan didasarkan pada rukyat hilal atau hisab sesuai kriteria yang dianut.

Artinya, tanggal Hijriyah tidak identik dengan tanggal astronomis universal (UTC). Perbedaan waktu beberapa jam saja dapat memindahkan momen purnama dari tanggal 14 ke tanggal 15, atau sebaliknya.

Sebagai contoh:

  • Jika purnama terjadi sebelum maghrib tanggal 14, maka secara Hijriyah ia termasuk 14 Ramadhan.

  • Jika terjadi setelah maghrib, maka ia masuk 15 Ramadhan.

  • Perbedaan zona waktu antarnegara juga memengaruhi tanggal lokal kejadian tersebut.


Realitas Astronomis: Purnama Tidak Selalu Tepat di Tanggal 15

Dalam praktik astronomi modern, fase purnama tidak selalu bertepatan persis dengan tanggal 15 Hijriyah. Secara teoritis, rata-rata fase purnama memang berada di pertengahan bulan (sekitar hari ke-14,77 sejak ijtimak). Namun angka ini adalah nilai rata-rata, bukan angka tetap.

Karena panjang bulan sinodik rata-rata adalah 29,53059 hari, maka:

  • Purnama bisa terjadi pada tanggal 14

  • Bisa juga tanggal 15

  • Bahkan dalam kondisi tertentu mendekati perbatasan tanggal

Secara historis dan empiris, data kalender Hijriyah menunjukkan bahwa purnama memang sering jatuh pada 14 atau 15, dan keduanya sah secara astronomis.


Analisis Kasus 3 Maret 2026

Mari kita lihat dua skenario:

Skenario A: Awal Ramadhan 18 Februari 2026, maka 3 Maret 2026 = 15 Ramadhan.

Skenario B: Awal Ramadhan 19 Februari 2026, maka 3 Maret 2026 = 14 Ramadhan.

Apakah skenario B otomatis salah?

Tidak.

Karena:

  • Gerhana bulan terjadi saat purnama.

  • Purnama bisa terjadi pada 14 atau 15 Hijriyah.

  • Perbedaan satu hari awal Ramadhan akan menggeser seluruh penanggalan bulan itu.

  • Secara astronomis, tidak ada kewajiban bahwa purnama harus selalu jatuh pada tanggal 15 dalam sistem kalender berbasis rukyat.

Dengan kata lain, gerhana bulan tidak dapat dijadikan alat verifikasi mutlak untuk menentukan benar atau salahnya awal Ramadhan, kecuali jika terjadi penyimpangan sangat ekstrem (misalnya gerhana terjadi pada tanggal 10 atau 20 Hijriyah, yang secara astronomis mustahil).


Perspektif Fikih

Dalam literatur fikih klasik, para ulama menyebut malam purnama dengan istilah ayyam al-bidh (hari-hari putih), yang biasanya dikaitkan dengan tanggal 13, 14, dan 15. Ini menunjukkan bahwa cahaya penuh bulan berlangsung dalam rentang tiga hari tersebut.

Artinya:

  • Secara fikih pun tidak ada ketentuan bahwa purnama harus tepat tanggal 15.

  • Tradisi puasa ayyam al-bidh justru mengakui adanya rentang fase terang bulan.

Hal ini memperkuat bahwa fenomena gerhana pada 14 atau 15 Ramadhan sama-sama mungkin dan tidak bertentangan dengan syariat.


Kesimpulan Ilmiah

  1. Gerhana bulan hanya terjadi saat purnama, tetapi purnama dalam kalender Hijriyah bisa jatuh pada tanggal 14 atau 15.

  2. Sistem pergantian hari dalam kalender Hijriyah dimulai saat maghrib, bukan tengah malam.

  3. Perbedaan satu hari dalam penetapan awal Ramadhan secara otomatis akan menggeser seluruh tanggal, termasuk tanggal purnama.

  4. Tidak ada dasar astronomis maupun fikih yang menyatakan bahwa gerhana harus selalu terjadi tepat tanggal 15 Hijriyah.

  5. Oleh karena itu, klaim bahwa awal Ramadhan 19 Februari 2026 pasti salah karena gerhana terjadi tanggal 14 Ramadhan adalah tidak berdasar secara ilmiah.


Penutup

Fenomena astronomi tidak dapat dipaksakan untuk mengikuti persepsi numerik kalender secara kaku. Kalender Hijriyah adalah sistem berbasis observasi hilal dan perhitungan bulan sinodik, bukan sistem yang mengunci fase purnama pada angka tertentu.

Maka, gerhana bulan 3 Maret 2026 yang jatuh pada 14 atau 15 Ramadhan—tergantung metode penetapan awal bulan—adalah hal yang sepenuhnya wajar dalam sistem komariah.

Perdebatan semacam ini seharusnya menjadi momentum edukasi astronomi dan fikih, bukan alat untuk menggiring opini atau menyalahkan pihak lain.

Depok, 17 Februari 2026



ARTIKEL LAIN

Kajian Imiah - HISAB DAN RUKYAT: DUA METODE, SATU LANDASAN ILMIAH (Telaah Epistemologis dan Astronomis atas Penetapan Awal Bulan Hijriah)

https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-imiah-hisab-dan-rukyat-dua.html


Kajian Ilmiah - Dinamika Implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT): Analisis Astronomis dan Fikih atas Potensi Perbedaan Internal

https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-dinamika-implementasi.html

Kajian Ilmiah - Analisis Ilmiah Penentuan Awal Ramadhan 1447 H Terkait Isu Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-analisis-ilmiah-penentuan.html

Kajian Ilmiah - Perkiraan 1 Ramadhan 1447 H di Indonesia: Tinjauan Berbagai Metode Penetapan Awal Bulan
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-perkiraan-1-ramadhan-1447.html

Kajian Ilmiah - Penyebab Perbedaan Penetapan Hari-Hari Besar Islam di Indonesia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-penyebab-perbedaan.html

Kajian Ilmiah - Menentukan Masuknya Waktu Dzuhur dengan Bayangan Matahari
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-menentukan-masuknya-waktu.html

Kajian Ilmiah - Tantangan Kalender Hijriyah Global Tunggal
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-tantangan-kalender.html

Kajian Ilmiah - Penentuan Arah Kiblat dengan Metode Great Circle
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/penentuan-arah-kiblat-dengan-metode.html

Kajian Ilmiah - Ilmu Astronomi dalam Islam
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-ilmu-astronomi-dalam-islam.html

Kajian-ilmiah-Mengenal Kalender Aboge
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-mengenal-kalender-aboge_7.html

Kajian Ilmiah - Panjang Bayangan Waktu Dzuhur di Beberapa Kota di Dunia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/panjang-bayangan-waktu-dhuhur-di.html

Kajian Ilmiah - Memahami Penetapan Awal Waktu Shalat Ashar
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/memahami-penetapan-awal-waktu-shalat.html

Kajian Imiah - HISAB DAN RUKYAT: DUA METODE, SATU LANDASAN ILMIAH (Telaah Epistemologis dan Astronomis atas Penetapan Awal Bulan Hijriah)



Abstrak

Dalam diskursus kontemporer, berkembang anggapan bahwa metode hisab lebih maju karena berbasis teknologi dan sains, sementara rukyat dianggap tradisional dan kurang mengikuti perkembangan zaman. Artikel ini membantah dikotomi tersebut dengan menunjukkan bahwa baik hisab maupun rukyatul hilal sama-sama bertumpu pada ilmu astronomi modern. Perbedaannya bukan pada kemajuan atau kemunduran metodologis, melainkan pada titik verifikasi: hisab menetapkan kemungkinan eksistensi hilal, sedangkan rukyat memastikan keterlihatan aktualnya.


Pendahuluan

Penetapan awal bulan Hijriah, terutama Ramadan dan Syawal, selalu menjadi topik diskusi di dunia Islam. Dalam konteks Indonesia, perbedaan pendekatan sering dikaitkan dengan organisasi seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Sebagian kalangan memandang hisab sebagai metode yang lebih ilmiah karena menggunakan perhitungan matematis dan teknologi astronomi. Sebaliknya, rukyatul hilal dianggap sebagai metode klasik yang kurang adaptif terhadap kemajuan sains. Pandangan ini perlu ditinjau ulang secara akademik.


Landasan Astronomis: Ilmu yang Sama

Baik hisab maupun rukyat sama-sama menggunakan data astronomi yang identik, meliputi:

  • Konjungsi (ijtimak)

  • Tinggi bulan (altitude)

  • Elongasi bulan-matahari

  • Umur bulan

  • Sudut cahaya (illumination)

  • Parameter visibilitas hilal

Dalam praktiknya, bahkan rukyatul hilal modern tidak lagi dilakukan secara “kasat mata tanpa ilmu”, melainkan berdasarkan kriteria astronomi yang terukur, seperti standar yang dikembangkan dalam forum regional MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura).

Artinya, perukyat pun menggunakan teleskop, kamera CCD, perangkat lunak astronomi, dan data ephemeris sebelum melakukan observasi. Tanpa perhitungan hisab, rukyat tidak akan efektif, karena lokasi dan waktu pengamatan harus ditentukan secara presisi.

Dengan demikian, secara epistemologis, rukyat bukan anti-sains, dan hisab bukan satu-satunya metode ilmiah.


Perbedaan Epistemologis: Prediksi vs Verifikasi

Perbedaan mendasar terletak pada fungsi metodologisnya:

Hisab

  • Bersifat prediktif

  • Menentukan kemungkinan wujud atau posisi hilal

  • Dapat menghasilkan kalender jauh hari sebelumnya

Rukyatul Hilal

  • Bersifat verifikatif

  • Memastikan hilal benar-benar terlihat

  • Menjadikan observasi empiris sebagai konfirmasi akhir

Dalam ilmu pengetahuan modern, prediksi dan verifikasi adalah dua tahap yang sama-sama ilmiah. Astronomi pun mengenal perhitungan teoritis sekaligus observasi teleskopik untuk memastikan kebenaran prediksi.

Dengan kata lain:
Hisab menghitung kemungkinan terlihatnya hilal.
Rukyat memastikan keterlihatan aktualnya.

Keduanya bukan kompetitor, melainkan dua pendekatan dalam kerangka ilmiah yang sama.


Perspektif Fiqh dan Metodologi

Dalam literatur fiqh klasik, perbedaan ini masuk dalam ranah ijtihad. Dalil hadis tentang “berpuasalah karena melihatnya” ditafsirkan dengan pendekatan berbeda oleh para ulama.

Sebagian menekankan makna literal penglihatan (rukyat), sementara sebagian lain memandang perhitungan astronomi sebagai bentuk perluasan makna penglihatan dalam konteks perkembangan ilmu.

Perbedaan ini mirip dengan kasus qunut Subuh:
Ada yang melakukannya, ada yang tidak, dan keduanya memiliki dalil kuat. Maka persoalan ini bukan soal benar dan salah mutlak, tetapi variasi metodologis dalam koridor syariat.


Kritik terhadap Dikotomi “Maju vs Ketinggalan Zaman”

Menganggap hisab lebih maju dan rukyat ketinggalan zaman adalah bentuk reduksi ilmiah karena:

  1. Rukyat modern menggunakan teknologi astronomi canggih.

  2. Hisab sendiri lahir dari tradisi observasi berabad-abad.

  3. Keduanya sama-sama bertumpu pada ilmu falak.

  4. Dalam metodologi sains, observasi tetap menjadi pilar utama.

Bahkan dalam astronomi modern, data observasi diperlukan untuk memvalidasi model matematis. Tanpa observasi, teori tetap hipotesis.


Kesimpulan

Anggapan bahwa hisab lebih maju dan rukyat ketinggalan zaman tidak berdasar secara ilmiah.

Keduanya:

  • Menggunakan ilmu astronomi yang sama

  • Bertumpu pada data dan perhitungan modern

  • Berbeda pada titik metodologis: prediksi vs verifikasi

Perbedaan ini adalah perbedaan pendekatan, bukan perbedaan antara sains dan anti-sains.

Karena itu, diskursus seputar penetapan awal bulan Hijriah seharusnya ditempatkan dalam kerangka dialog ilmiah dan fiqhiyah, bukan dalam dikotomi modernitas versus tradisionalitas.

Depok, 17 Februari 2026


ARTIKEL LAIN

Kajian Ilmiah - Dinamika Implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT): Analisis Astronomis dan Fikih atas Potensi Perbedaan Internal

https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-dinamika-implementasi.html

Kajian Ilmiah - Analisis Ilmiah Penentuan Awal Ramadhan 1447 H Terkait Isu Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-analisis-ilmiah-penentuan.html

Kajian Ilmiah - Perkiraan 1 Ramadhan 1447 H di Indonesia: Tinjauan Berbagai Metode Penetapan Awal Bulan
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-perkiraan-1-ramadhan-1447.html

Kajian Ilmiah - Penyebab Perbedaan Penetapan Hari-Hari Besar Islam di Indonesia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-penyebab-perbedaan.html

Kajian Ilmiah - Menentukan Masuknya Waktu Dzuhur dengan Bayangan Matahari
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-menentukan-masuknya-waktu.html

Kajian Ilmiah - Tantangan Kalender Hijriyah Global Tunggal
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-tantangan-kalender.html

Kajian Ilmiah - Penentuan Arah Kiblat dengan Metode Great Circle
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/penentuan-arah-kiblat-dengan-metode.html

Kajian Ilmiah - Ilmu Astronomi dalam Islam
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-ilmu-astronomi-dalam-islam.html

Kajian-ilmiah-Mengenal Kalender Aboge
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-mengenal-kalender-aboge_7.html

Kajian Ilmiah - Panjang Bayangan Waktu Dzuhur di Beberapa Kota di Dunia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/panjang-bayangan-waktu-dhuhur-di.html

Kajian Ilmiah - Memahami Penetapan Awal Waktu Shalat Ashar
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/memahami-penetapan-awal-waktu-shalat.html


Senin, 16 Februari 2026

Kajian Ilmiah - Dinamika Implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT): Analisis Astronomis dan Fikih atas Potensi Perbedaan Internal

 


Abstrak

Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) digagas sebagai solusi atas fragmentasi penanggalan Islam yang selama ini terjadi akibat perbedaan metode rukyat dan hisab lokal. Salah satu tonggak pentingnya adalah Muktamar Turki 2016 yang merekomendasikan sistem kalender global berbasis kriteria astronomis imkan rukyat. Namun, dalam implementasinya, KHGT masih menyisakan ruang perbedaan teknis, khususnya terkait pendekatan geosentrik dan toposentrik, parameter visibilitas hilal, serta definisi awal hari global. Artikel ini menganalisis aspek-aspek tersebut secara astronomis dan fikih, serta membahas dinamika ijtihad lembaga-lembaga dunia Islam dalam menerjemahkan hasil muktamar. Kajian ini menunjukkan bahwa meskipun KHGT berorientasi unifikasi, potensi perbedaan tetap terbuka selama standar teknis belum sepenuhnya terharmonisasi.


Pendahuluan

Perbedaan awal bulan Hijriah merupakan fenomena berulang dalam kehidupan umat Islam. Fragmentasi tersebut bukan hanya akibat perbedaan mazhab fikih, tetapi juga karena variasi pendekatan astronomis dan batas geografis rukyat. Dalam konteks globalisasi dan kebutuhan administratif modern, muncul gagasan penyatuan kalender Islam secara global.

KHGT diproyeksikan sebagai sistem yang mengintegrasikan prinsip hisab astronomis dengan visi kesatuan umat. Namun, setelah lebih dari satu dekade sejak perumusan konsep globalnya, muncul pertanyaan kritis: apakah KHGT benar-benar mampu menghilangkan potensi perbedaan?


Kerangka Konseptual KHGT

Rekomendasi Muktamar Turki 2016 menegaskan prinsip bahwa awal bulan ditetapkan apabila hilal secara astronomis telah memenuhi kriteria visibilitas di suatu bagian bumi, dengan implikasi keberlakuan global. Pendekatan ini menggeser paradigma dari rukyat lokal menuju hisab global berbasis imkan rukyat.

Namun, keputusan tersebut bersifat normatif dan tidak merinci secara detail:

  1. Model astronomi yang wajib digunakan

  2. Parameter visibilitas hilal yang baku

  3. Definisi teknis awal hari global

  4. Mekanisme otoritas penetapan lintas negara

Ketiadaan perincian teknis inilah yang membuka ruang interpretasi dan ijtihad lanjutan.


Problematika Geosentrik dan Toposentrik

Salah satu titik krusial dalam perhitungan astronomis adalah perbedaan pendekatan geosentrik dan toposentrik.

1. Pendekatan Geosentrik

Perhitungan dilakukan berdasarkan posisi bulan terhadap pusat bumi. Model ini lebih sederhana dan relatif seragam untuk kepentingan kalender global.

2. Pendekatan Toposentrik

Perhitungan dilakukan dari lokasi pengamat di permukaan bumi. Model ini lebih realistis dalam konteks rukyat, tetapi menghasilkan variasi antar wilayah.

Perbedaan kedua pendekatan tersebut dapat menyebabkan perbedaan nilai tinggi hilal, elongasi, dan parameter visibilitas. Dalam kasus tertentu, model geosentrik dapat menyatakan hilal telah memenuhi syarat, sementara model toposentrik di lokasi tertentu belum.

Dengan demikian, meskipun konsepnya global, hasil implementasinya dapat berbeda tergantung pendekatan yang dipilih.


Variasi Parameter Teknis dan Dampaknya

Selain model posisi bulan, terdapat beberapa variabel teknis yang sangat menentukan:

  • Batas minimal tinggi hilal

  • Nilai elongasi minimal

  • Batas beda waktu konjungsi dan matahari terbenam

  • Garis batas keberlakuan global

  • Definisi awal hari (maghrib lokal atau sistem zona waktu internasional)

Perubahan kecil pada parameter tersebut dapat menggeser hasil penetapan satu hari. Dalam sistem kalender, perbedaan satu derajat atau beberapa menit waktu dapat berdampak signifikan pada status awal bulan.


Dinamika Implementasi oleh Lembaga Internasional

Beberapa lembaga Islam internasional mengadopsi prinsip KHGT dengan pendekatan berbeda, antara lain:

  • FCNA

  • ECFR

  • Diyanet

  • Muhammadiyah

Masing-masing lembaga melakukan ijtihad dalam:

  1. Pemilihan algoritma astronomi

  2. Penentuan batas visibilitas

  3. Integrasi pertimbangan fikih klasik

  4. Penyesuaian dengan konteks sosial-politik lokal

Akibatnya, meskipun merujuk pada semangat unifikasi global, implementasi praktisnya masih dapat menghasilkan perbedaan tanggal.


Tinjauan Fikih atas Unifikasi Kalender

Dalam khazanah fikih klasik, terdapat perbedaan antara konsep ikhtilaf al-mathali’ (perbedaan tempat terbit hilal) dan ittihad al-mathali’ (kesatuan rukyat). KHGT cenderung mengadopsi pendekatan kesatuan global.

Namun, penerapan kesatuan global memerlukan konsensus otoritatif lintas negara dan mazhab. Tanpa mekanisme otoritas tunggal yang diakui secara internasional, potensi perbedaan tetap terbuka, meskipun secara astronomis memungkinkan unifikasi.


Evaluasi Konseptual

Secara teoritis, KHGT dapat disusun menjadi sistem tunggal tanpa perbedaan jika:

  1. Parameter astronomis distandardisasi secara internasional

  2. Model perhitungan disepakati bersama

  3. Otoritas global dibentuk dan diakui luas

  4. Dimensi fikih dan astronomi diharmonisasikan secara kolektif

Namun dalam realitas saat ini, KHGT masih berada pada tahap konseptual-operasional yang berkembang. Oleh karena itu, potensi perbedaan internal belum sepenuhnya tertutup.


Kesimpulan

Kalender Hijriah Global Tunggal merupakan upaya strategis menuju penyatuan sistem penanggalan Islam secara global. Namun, analisis menunjukkan bahwa perbedaan pendekatan astronomis (geosentrik dan toposentrik), variasi parameter teknis, serta dinamika ijtihad lembaga-lembaga internasional masih membuka ruang terjadinya perbedaan hasil implementasi.

Dengan demikian, KHGT bukanlah produk final yang sepenuhnya stabil, melainkan proses ilmiah dan fikih yang terus berkembang. Unifikasi kalender global memerlukan bukan hanya kesepakatan konseptual, tetapi juga standardisasi teknis dan legitimasi otoritatif yang komprehensif.

Depok, 16 Februari 2026


ARTIKEL LAIN

Kajian Ilmiah - Analisis Ilmiah Penentuan Awal Ramadhan 1447 H Terkait Isu Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-analisis-ilmiah-penentuan.html

Kajian Ilmiah - Perkiraan 1 Ramadhan 1447 H di Indonesia: Tinjauan Berbagai Metode Penetapan Awal Bulan
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-perkiraan-1-ramadhan-1447.html

Kajian Ilmiah - Penyebab Perbedaan Penetapan Hari-Hari Besar Islam di Indonesia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-penyebab-perbedaan.html

Kajian Ilmiah - Menentukan Masuknya Waktu Dzuhur dengan Bayangan Matahari
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-menentukan-masuknya-waktu.html

Kajian Ilmiah - Tantangan Kalender Hijriyah Global Tunggal
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-tantangan-kalender.html

Kajian Ilmiah - Penentuan Arah Kiblat dengan Metode Great Circle
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/penentuan-arah-kiblat-dengan-metode.html

Kajian Ilmiah - Ilmu Astronomi dalam Islam
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-ilmu-astronomi-dalam-islam.html

Kajian-ilmiah-Mengenal Kalender Aboge
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-mengenal-kalender-aboge_7.html

Kajian Ilmiah - Panjang Bayangan Waktu Dzuhur di Beberapa Kota di Dunia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/panjang-bayangan-waktu-dhuhur-di.html

Kajian Ilmiah - Memahami Penetapan Awal Waktu Shalat Ashar
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/memahami-penetapan-awal-waktu-shalat.html



Sabtu, 14 Februari 2026

Kajian Ilmiah - Analisis Ilmiah Penentuan Awal Ramadhan 1447 H Terkait Isu Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026

 


Pendahuluan

Penentuan awal bulan dalam kalender hijriyah merupakan kajian yang menggabungkan aspek syariat Islam dan ilmu astronomi modern. Di banyak negara Muslim, termasuk Indonesia, penentuan awal bulan hijriyah dilakukan menggunakan metode hisab dan rukyat yang telah distandardisasi secara ilmiah dan kelembagaan.

Belakangan beredar isu bahwa 1 Ramadhan 1447 H seharusnya jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, dengan alasan pada 17 Februari 2026 terjadi gerhana matahari cincin yang dianggap sebagai tanda masuknya bulan baru. Artikel ini bertujuan mengkaji klaim tersebut berdasarkan pendekatan astronomi dan metode penentuan awal bulan hijriyah yang digunakan secara resmi.


Metode Penentuan Awal Bulan Hijriyah yang Diakui

Secara umum terdapat beberapa metode yang dikenal dalam penentuan awal bulan hijriyah, yaitu:

  1. Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)

  2. Wujudul Hilal

  3. Imkanur Rukyat

  4. Rukyatul Hilal

Dalam praktik di Indonesia, penetapan awal bulan melibatkan otoritas keagamaan dan negara, antara lain:

  • Kementerian Agama Republik Indonesia

  • Nahdlatul Ulama

  • Muhammadiyah

Meskipun terdapat perbedaan teknis, semua metode tersebut berlandaskan parameter posisi geometris bulan terhadap matahari dan bumi, bukan fenomena gerhana.


Fenomena Gerhana Matahari Cincin dalam Perspektif Astronomi

Gerhana matahari cincin terjadi ketika:

  • Bulan berada di antara bumi dan matahari (fase bulan baru / new moon).

  • Namun ukuran sudut bulan lebih kecil daripada matahari sehingga terbentuk cincin cahaya matahari.

Secara astronomi, gerhana matahari selalu terjadi sangat dekat dengan waktu konjungsi (ijtimak). Artinya, berbeda dengan gerhana bulan, gerhana matahari memang berkaitan langsung dengan fase bulan baru.

Namun penting dipahami bahwa:

  • Tidak setiap ijtimak menghasilkan gerhana matahari.

  • Tidak setiap gerhana matahari dapat dijadikan dasar penentuan awal bulan hijriyah.


Hubungan Ijtimak dan Awal Bulan Hijriyah

Memang benar bahwa gerhana matahari menandakan bulan berada sangat dekat dengan posisi konjungsi. Namun dalam praktik penanggalan hijriyah, ijtimak saja tidak cukup.

Dalam metode wujudul hilal, awal bulan ditentukan jika:

  1. Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam.

  2. Saat matahari terbenam, bulan sudah berada di atas ufuk.

Dalam metode imkanur rukyat, syaratnya lebih ketat, yaitu mempertimbangkan kemungkinan hilal dapat dirukyat secara optik.

Dengan demikian, keberadaan gerhana matahari tidak otomatis berarti hilal sudah memenuhi syarat sebagai awal bulan.


Analisis Kasus 17 Februari 2026

Dalam isu yang beredar disebutkan:

  • 17 Februari 2026 terjadi gerhana matahari cincin.

  • Kemudian diasumsikan 18 Februari 2026 otomatis menjadi 1 Ramadhan.

Secara ilmiah perlu dianalisis:

1. Waktu Ijtimak vs Waktu Matahari Terbenam
Jika ijtimak terjadi setelah matahari terbenam, maka menurut wujudul hilal belum masuk bulan baru.

2. Posisi Hilal Saat Maghrib
Walaupun ijtimak terjadi siang hari, belum tentu saat maghrib hilal sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian yang memenuhi kriteria imkan rukyat.

3. Lokasi Geografis
Awal bulan hijriyah bergantung pada lokasi pengamatan. Gerhana matahari hanya terlihat di jalur tertentu di permukaan bumi, sehingga tidak bisa menjadi indikator global.


Kesalahan Interpretasi yang Sering Terjadi

Beberapa kekeliruan pemahaman yang sering muncul di masyarakat:

  1. Menganggap semua fenomena langit dapat dijadikan tanda pergantian bulan hijriyah.

  2. Menganggap gerhana matahari pasti berarti masuk bulan baru secara kalender hijriyah.

  3. Mengabaikan parameter hilal saat matahari terbenam.

Padahal secara ilmu falak modern, parameter utama tetap:

  • Waktu ijtimak

  • Tinggi bulan saat matahari terbenam

  • Elongasi bulan-matahari

  • Umur bulan


Implikasi Fikih dan Ilmu Falak Modern

Baik metode rukyat maupun hisab modern tidak menggunakan fenomena gerhana sebagai indikator awal bulan. Gerhana hanya merupakan fenomena konsekuensi posisi geometris tertentu dalam sistem bumi–bulan–matahari.

Dalam praktik resmi, keputusan tetap mengacu pada data astronomi posisi hilal dan kriteria visibilitas hilal.


Kesimpulan

Berdasarkan kajian astronomi dan metodologi penentuan awal bulan hijriyah, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Gerhana matahari cincin memang terjadi dekat dengan fase bulan baru.

  2. Namun gerhana matahari bukan parameter resmi penentuan awal bulan hijriyah.

  3. Dalam metode wujudul hilal, ijtimak harus terjadi sebelum matahari terbenam dan hilal sudah berada di atas ufuk saat maghrib.

  4. Penentuan awal Ramadhan tidak bisa hanya didasarkan pada adanya gerhana matahari.

Dengan demikian, menganggap bahwa terjadinya gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026 otomatis menjadikan 18 Februari 2026 sebagai 1 Ramadhan 1447 H adalah kesimpulan yang tidak tepat secara metodologis maupun astronomis.

Depok, 14 Februari 2026

Senin, 09 Februari 2026

Kajian Ilmiah - Perkiraan 1 Ramadhan 1447 H di Indonesia: Tinjauan Berbagai Metode Penetapan Awal Bulan


Pendahuluan

Penetapan awal bulan Ramadhan merupakan isu penting dalam kehidupan umat Islam, karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah puasa. Di Indonesia, perbedaan penetapan awal Ramadhan hampir selalu terjadi dan berulang setiap tahun. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriyah yang digunakan oleh pemerintah dan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.

Sebagian ormas keagamaan memilih mengikuti keputusan pemerintah melalui Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sementara itu, ada pula ormas yang menggunakan metode perhitungan (hisab) secara mandiri, seperti Muhammadiyah. Secara historis, Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal, namun mulai tahun ini beralih menggunakan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) sebagai sistem penanggalan Islam global.

Perbedaan metode ini sering kali memunculkan perbedaan tanggal awal Ramadhan. Namun demikian, umat Islam tidak perlu membesar-besarkan perbedaan tersebut. Dalam khazanah fikih Islam, perbedaan ijtihad adalah hal yang wajar dan merupakan rahmat. Setiap ijtihad, baik yang hasilnya benar maupun keliru, tetap bernilai kebaikan di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, sikap saling menghormati, menghargai, dan menjaga ukhuwah Islamiyah harus senantiasa dikedepankan.

Artikel ini bertujuan untuk memaparkan perkiraan awal Ramadhan 1447 H di Indonesia berdasarkan beberapa metode yang berkembang dan digunakan saat ini.

1. Versi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)

Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) merupakan sistem kalender Islam yang dirancang untuk menyatukan penanggalan Hijriyah secara global. Prinsip utamanya adalah kesatuan hari dan tanggal Hijriyah di seluruh dunia, sehingga umat Islam di berbagai negara memulai bulan yang sama pada hari yang sama pula.

Dalam KHGT, penetapan awal bulan Hijriyah dilakukan berdasarkan perhitungan astronomis global dengan kriteria tertentu, tanpa bergantung pada rukyat lokal di masing-masing negara. Jika secara hisab telah terjadi konjungsi (ijtima’) dan memenuhi kriteria yang ditetapkan secara global, maka bulan baru langsung dimulai, terlepas dari kondisi visibilitas hilal di suatu wilayah tertentu.

Berdasarkan perhitungan KHGT, 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Dengan demikian, umat Islam yang mengikuti KHGT akan memulai puasa Ramadhan pada tanggal tersebut.

2. Versi Wujudul Hilal

Wujudul hilal adalah metode penetapan awal bulan Hijriyah berdasarkan tiga syarat utama:

  1. Telah terjadi ijtima’ (konjungsi),

  2. Ijtima’ terjadi sebelum matahari terbenam, dan

  3. Pada saat matahari terbenam, posisi bulan berada di atas ufuk, meskipun sangat rendah dan belum tentu dapat dilihat.

Dalam konteks Ramadhan 1447 H, berdasarkan data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketinggian hilal di Indonesia pada saat matahari terbenam tanggal 17 Februari 2026 masih berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar antara -2,41° di Jayapura, Papua, hingga -0,93° di Tua Pejat, Sumatera Barat.

Karena hilal belum wujud (masih berada di bawah ufuk), maka umur bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, 18 Februari 2026 bertepatan dengan 30 Sya’ban 1447 H, dan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026.

3. Versi Imkanur Ru’yat

Imkanur ru’yat adalah metode yang menggabungkan hisab dan rukyat, dengan menekankan pada kemungkinan hilal untuk dapat dilihat. Dalam metode ini, awal bulan ditetapkan apabila posisi hilal telah memenuhi kriteria minimal visibilitas tertentu, seperti ketinggian hilal dan elongasi bulan-matahari.

Di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, kriteria imkanur ru’yat yang umum digunakan adalah kriteria MABIMS, yang mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3° dan elongasi minimal 6,4°.

Pada tanggal 17 Februari 2026, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada pada nilai negatif (di bawah ufuk), sehingga tidak memenuhi kriteria imkanur ru’yat. Oleh karena itu, tanggal 18 Februari 2026 ditetapkan sebagai 30 Sya’ban 1447 H, dan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026.

4. Versi Ru’yatul Hilal

Ru’yatul hilal adalah metode penetapan awal bulan Hijriyah dengan cara mengamati hilal secara langsung setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan berjalan. Metode ini merupakan pendekatan klasik yang memiliki dasar kuat dalam hadis Nabi Muhammad SAW dan masih digunakan secara resmi oleh pemerintah Indonesia.

Untuk penetapan awal Ramadhan 1447 H, Sidang Isbat Kementerian Agama Republik Indonesia direncanakan akan diselenggarakan pada sore hari Selasa, 17 Februari 2026, setelah dilakukan pengamatan hilal di berbagai titik rukyat di Indonesia.

Berdasarkan data astronomis, kemungkinan besar hilal tidak akan terlihat pada sore tersebut, karena ketinggiannya masih berada jauh di bawah syarat minimal kriteria MABIMS. Dengan demikian, menurut metode ru’yatul hilal, besar kemungkinan 1 Ramadhan 1447 H ditetapkan pada hari Kamis, 19 Februari 2026.

Konsekuensinya, shalat tarawih pertama dilaksanakan pada malam Kamis (Rabu malam), dan puasa Ramadhan dimulai pada siang hari Kamis, 19 Februari 2026.


Penutup

Perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 H di Indonesia merupakan konsekuensi logis dari perbedaan metode ijtihad yang digunakan. Setiap metode memiliki landasan ilmiah dan keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, perbedaan ini hendaknya disikapi dengan kedewasaan, toleransi, dan saling menghormati.

Pada akhirnya, tujuan utama umat Islam adalah menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh keikhlasan, ketakwaan, dan menjaga persatuan umat, tanpa terjebak dalam polemik yang tidak produktif.

Depok, 9 Februari 2026

Senin, 27 Oktober 2025

Kajian Ilmiah - Lebih Lanjut Tentang Api



Tentang Bara dan Api

Perbedaan antara bara dan api sudah saya jelaskan dari sisi makroskopik. Intinya, bara yang menempel pada benda yang terbakar bukanlah api itu sendiri. Namun ada hal yang belum saya singgung: dalam tataran mikroskopik, api yang kita lihat sejatinya adalah gas bahan bakar—misalnya gas karbon—yang sedang membara sesaat sebelum bereaksi dengan gas oksigen.

Cerita lengkapnya begini:
Zat cair maupun zat padat tidak akan langsung terbakar. Keduanya harus berubah lebih dulu menjadi uap atau gas. Elpiji di tabung, misalnya, wujudnya masih cair. Tetapi ketika keluar dari tabung, ia segera berubah menjadi gas karena perbedaan tekanan. Gas inilah yang kemudian bereaksi dengan oksigen di udara.

Arang pun demikian. Sepotong arang harus dipanaskan lebih dulu agar menghasilkan uap karbon. Gas karbon ini lalu bereaksi dengan oksigen. Karena reaksi pembakaran menghasilkan panas, terbentuklah siklus yang membuat arang terus membara hingga habis.

Lalu, mengapa api terlihat menyala?
Padahal baik oksigen maupun gas karbon tidak bisa dilihat mata.
Saat arang dipanaskan, ia mengeluarkan gas karbon dalam jumlah banyak. Gas ini naik ke atas karena pengaruh konveksi. Di saat bersamaan, oksigen dari udara datang menyambut dari berbagai arah. Pertemuan keduanya terjadi di ruang tak kasatmata. Namun ada sebagian gas karbon yang belum mendapat pasangan oksigen. Gas karbon “kesepian” ini membara sesaat, lalu menimbulkan cahaya—itulah yang kita lihat sebagai nyala api.

Semakin ke atas, jumlah gas karbon yang belum terbakar makin sedikit. Karena itu bentuk api meruncing ke atas, sampai akhirnya gas karbon bertemu pasangan oksigen di tepi ruangan reaksi itu.

Lingkaran Setan Pembakaran
Proses pembakaran bagaikan sebuah lingkaran setan. Arang yang dipanaskan menguap, menghasilkan gas karbon. Gas karbon bertemu oksigen, keduanya “bergembira” dan melepaskan energi dalam bentuk panas. Panas ini kembali memprovokasi arang agar menguap. Demikian seterusnya sampai arang atau bahan yang terbakar habis menjadi abu.

Bagaimana pengendali api melawannya?
Caranya adalah memutus rantai pembakaran. Jurus pemutus rantai ini ada dua:

  1. Menghalangi oksigen agar tidak bisa menemui “pasangannya”.

  2. Menurunkan temperatur agar bahan bakar tidak mudah terprovokasi.

Keduanya bisa dilakukan sendiri-sendiri atau bersamaan.

Dalam praktik sehari-hari:

  • Api bisa dipadamkan dengan menghalangi oksigen, misalnya dengan menyemprotkan karbondioksida ke sumber api.

  • Atau dengan menurunkan suhu, misalnya menyiram dengan air.

Itulah sebabnya, bila ada api di dapur, kita dianjurkan menutupnya dengan karung goni basah. Cara ini sekaligus menurunkan suhu dan menghalangi oksigen masuk.

Catatan:
Reaksi kimia spontan yang terjadi:
C (gas karbon) + O₂ (gas oksigen) → CO₂ (karbondioksida) + Energi.

Kamis, 16 Oktober 2025

Kajian Ilmiah - Api dan Bara

 


Api dan Bara: Serupa Tapi Tak Sama

Bara api dalam senyummu, kuterbakar kemesrahanmu…
Itu salah satu lirik lagu pop tahun 80-an. 

Ada juga lirik dangdut Mansyur S.:

“Panas bara api membakar kulitku,
Lebih panas lagi oh terbakar hati…”

Dan sebuah lagu Malaysia:

“Andai dipisah api dan bara,
Tak akan pudar sinaran cinta…”

Kalau kita resapi lirik-lirik itu, kesannya bara dan api adalah satu. Memang, ketika bakar ikan bersama tetangga saat malam pergantian tahun, saya juga melihat keduanya seolah-olah menyatu. Api berkobar di atas arang yang membara. Tak heran orang sering berkata: “Ada bara, pasti ada api.”

Namun, sesungguhnya bara dan api itu berbeda, bahkan sangat berbeda. Kebetulan saja saat kita memanggang ikan, keduanya tampak beriringan.

Apa Itu Bara?

Bara adalah benda padat yang radiasinya sudah masuk ke spektrum cahaya tampak. Semua benda sebenarnya memancarkan radiasi elektromagnetik, termasuk tubuh kita. Bedanya, tubuh manusia meradiasikan gelombang di daerah infra merah, sehingga tak kasat mata. Itulah sebabnya tubuh kita tetap terlihat oleh kamera infra merah di kegelapan total.

Bara terjadi ketika suhu suatu benda cukup tinggi sehingga radiasinya bergeser masuk ke spektrum cahaya tampak—mulai dari merah, jingga, hingga kuning. Karena itu bara tampak bercahaya meskipun tidak berkobar.

Apa Itu Api?

Api berbeda sama sekali. Api adalah hasil reaksi kimia antara gas oksigen dan gas bahan bakar. Yang kita lihat sebagai nyala api sebenarnya adalah energi panas dan cahaya yang dilepaskan saat reaksi berlangsung.

Jadi, api hanya bisa muncul ketika ada:

  1. Gas oksigen,

  2. Gas bahan bakar, dan

  3. Suhu yang cukup tinggi untuk memicu reaksi.

Zat padat atau cair sebenarnya tidak “terbakar” langsung. Mereka harus lebih dulu berubah menjadi gas (misalnya lewat pemanasan) baru kemudian bisa menghasilkan api. (Mengapa begitu? Nantikan bahasan selanjutnya di seri Fisika di Sekitar Kita).

Perbedaan Bara dan Api

Bara

  • Timbul semata karena temperatur tinggi.

  • Bisa terjadi tanpa oksigen, bahkan di ruang hampa.

  • Tidak melibatkan reaksi kimia.

Api

  • Timbul karena reaksi kimia antara gas oksigen dan gas bahan bakar.

  • Hanya terjadi di lingkungan yang mengandung oksigen.

  • Selalu melibatkan reaksi kimia.

Arang Membara vs Api Berkobar

Saat membakar ikan, arang terlihat membara dan kadang di atasnya muncul api. Itu hanyalah kebetulan yang terjadi bersamaan. Arang membara karena suhunya tinggi. Jika bara arang diambil, lalu dimasukkan ke air hingga suhunya turun, ia akan kembali menjadi arang hitam dan keras seperti semula.

Artinya, arang tidak terbakar habis. Kalau terbakar, seharusnya ia berubah jadi abu seluruhnya. Ini bukti bahwa bara bukanlah api.

Andai Api Bisa Bernyanyi…

Kalau api bisa menyanyi, mungkin ia akan bersuara begini:

“Walaupun rambut sama hitamnya,
Jangan samakan aku dengannya.
Aku tak silau melihat bara…
(ups bukan, harta!)”

Catatan

Reaksi kimia adalah reaksi yang mengubah sifat kimia suatu zat, bukan hanya bentuk atau wujudnya.

Sabtu, 20 September 2025

Kajian Ilmah - Melindungi Panas

 



Panas dan Dingin: Siapa Lawan Siapa?

“Panas lawannya dingin.” Begitu kata guru bahasa Indonesia dulu. Keduanya memang disebut sebagai kata keadaan yang biasanya dipakai untuk menggambarkan kondisi suatu benda. Misalnya, “kopi di meja masih panas”, “di puncak hawanya dingin”, atau “hatinya sedingin salju.”

Namun, pernahkah kita bertanya: ukuran apa yang dipakai untuk menyebut sesuatu itu panas atau dingin?

Berbeda dengan jauh-dekat yang relatif (jarak A ke B bisa terasa jauh atau dekat tergantung situasi), panas dan dingin tidak sesederhana itu. Kita tidak pernah menyebut air mendidih itu dingin, atau sebongkah es itu panas.

Standar Panas dan Dingin

Ukuran panas atau dingin umumnya didasarkan pada suhu tubuh manusia. Kita tahu bahwa manusia mempertahankan suhu tubuh sekitar 37 °C. Karena itulah:

  • Air mendidih pada suhu 100 °C kita anggap panas, sebab suhunya jauh di atas suhu tubuh.

  • Es bersuhu 0 °C kita anggap dingin, sebab suhunya jauh di bawah suhu tubuh.

Jadi, panas-dingin itu relatif terhadap kita, bukan mutlak. (Mengapa tubuh bisa merasakan panas atau dingin? Ikuti terus seri Fisika di Sekitar Kita).

Apakah Dingin Itu Ada?

Pertanyaan pentingnya: apakah benda yang kita sebut dingin itu berarti tidak punya panas?

Fisika menjawab: tidak ada istilah dingin. Semua benda di alam ini tetap memiliki energi panas, hanya kadarnya berbeda. Bahkan, satu meter kubik es bisa saja menyimpan energi panas lebih besar daripada secangkir kopi yang mengepul.

Maka, ketika kita bicara tentang “melindungi panas”, itu sekaligus berarti juga “melindungi dingin.” Maksudnya adalah mencegah perpindahan panas antara suatu benda dan lingkungannya. Dalam fisika, sistem seperti ini disebut adiabatis.

Thermos: Ilmu Fisika di Dapur

Contoh paling dekat dengan kita adalah termos air panas di dapur, atau kotak pendingin minuman di warung. Keduanya berfungsi sama: menjaga suhu isi di dalamnya agar tidak cepat setara dengan suhu lingkungan.

Bagaimana cara kerjanya? Mari kita lihat jalannya panas mencoba “kabur” dari air dalam termos:

  1. Konveksi terhalang.
    Molekul air di permukaan ingin menguap agar bisa menurunkan suhu air keseluruhan. Tapi tutup termos yang rapat menahan uap. Akibatnya, udara di dalam rongga cepat mencapai kelembapan jenuh, sehingga penguapan terhenti.

  2. Konduksi sulit.
    Panas mencoba merambat melalui dinding termos. Dinding termos memang dari kaca, bisa menghantarkan panas, tetapi di antara dua lapisan kaca terdapat ruang hampa. Karena hampa udara tidak bisa menghantarkan panas, jalur ini pun buntu.

  3. Radiasi dipantulkan.
    Satu-satunya cara tersisa adalah radiasi panas dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Tapi dinding dalam termos dibuat mengkilap seperti cermin, sehingga radiasi dipantulkan kembali ke dalam.

Dengan tiga jalur ini tertutup rapat, panas air dalam termos akhirnya bertahan lama.

Tidak Ada yang Sempurna

Meski begitu, tidak ada sistem yang efisiensinya 100%. Termos terbaik sekalipun tetap akan kehilangan panas seiring waktu. Yang penting adalah bagaimana merancangnya agar kebocoran panas sekecil mungkin, sehingga suhu bisa terjaga dalam waktu lama.

Catatan Penting

  • Penguapan menyebabkan suhu suatu benda menurun. Prinsip inilah yang dipakai pada kerja AC.

  • Semakin tinggi kelembapan udara, semakin sulit terjadi penguapan. Itulah mengapa kita merasa gerah menjelang hujan: udara lembap membuat keringat kita sulit menguap.


✨ Tentang Penulis ✨

Di balik angka, teori, dan bintang-bintang, selalu ada manusia yang mencari makna. Siapakah dia?
Baca biografinya...

Mohon Dimengerti

Silakan copas dan publikasi ulang, tapi mohon jangan mengubah alamat-alamat link yang ada di dalam artikel dan mohon cantumkan sumbernya blog FISIKA DI SEKITAR KITA.
Penulis tidak bertanggung jawab atas segala isi hasil copas yang dipublikasikan tersebut. Karena bisa saja Penulis baru menyadari ada kekeliruan dalam artikel dan merevisinya, untuk itu mohon komunikasinya.
Terima kasih atas pengertiannya.

Postingan Populer