Abstrak
Upaya unifikasi kalender Hijriah global melalui konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) bertujuan mengakhiri fragmentasi awal bulan di dunia Islam. Namun dalam implementasinya, muncul problem ketika suatu wilayah dipaksa masuk ke tanggal 1 bulan berikutnya sementara secara astronomi hilal belum wujud pada saat maghrib lokal. Artikel ini menawarkan model sintesis yang mempertahankan semangat globalitas namun tetap tunduk pada validitas astronomi lokal. Model ini dinamakan KHGT-AL (Astronomis Lokal), yaitu sistem global terkoordinasi yang mensyaratkan keberlakuan bulan baru hanya pada wilayah yang telah memenuhi syarat astronomi minimum. Pendekatan ini diharapkan menjadi jalan tengah antara absolutisme global dan fragmentasi matlak ekstrem.
1. Pendahuluan
Kalender Hijriah merupakan kalender lunar murni yang berbasis pada siklus sinodik bulan.
Dalam konteks modern, kebutuhan unifikasi kalender global semakin menguat, terutama untuk kepentingan ibadah kolektif seperti Ramadan dan Idul Fitri. Konferensi Istanbul 2016 yang diprakarsai oleh Diyanet Isleri Baskanligi merumuskan konsep KHGT sebagai sistem kalender global berbasis visibilitas hilal.
Namun, salah satu kritik utama terhadap model global absolut adalah potensi “pemaksaan astronomi”, yakni situasi ketika suatu wilayah dipaksa memasuki bulan baru meskipun pada saat maghrib lokal hilal belum wujud atau bahkan ijtimak belum terjadi.
Artikel ini bertujuan menawarkan model alternatif yang tetap menjaga prinsip globalitas tanpa menabrak realitas astronomi lokal.
2. Problem Astronomi dalam Model Global Absolut
Secara astronomi, awal bulan qamariyah berkaitan dengan tiga parameter utama:
Terjadinya ijtimak (konjungsi)
Bulan terbenam setelah matahari (moonset after sunset)
Parameter visibilitas (elongasi, tinggi hilal, dsb.)
Dalam model global absolut, jika hilal memenuhi kriteria di suatu lokasi di bumi sebelum batas waktu tertentu (misalnya 00.00 UTC), maka seluruh dunia dianggap memasuki bulan baru.
Problem muncul ketika:
Di wilayah barat hilal sudah memenuhi kriteria.
Di wilayah timur saat maghrib lokal hilal masih di bawah ufuk.
Bahkan dalam kasus ekstrem, ijtimak belum terjadi sebelum maghrib lokal.
Secara astronomi, hal ini berarti wilayah tersebut belum mengalami fase bulan baru secara geometris.
3. Prinsip Dasar Model KHGT-AL
Model yang diusulkan berangkat dari dua prinsip utama:
3.1 Global dalam Koordinasi
Data astronomi bersifat global dan tunggal. Dunia Islam dapat menggunakan satu basis hisab dan satu sistem parameter visibilitas.
3.2 Lokal dalam Validitas Astronomi
Suatu wilayah hanya boleh memasuki bulan baru jika pada saat maghrib lokal:
Ijtimak telah terjadi.
Bulan telah berada di atas ufuk.
Dengan demikian, tidak ada wilayah yang memasuki bulan baru dalam kondisi “hilal belum lahir”.
4. Mekanisme Operasional
4.1 Zona Validitas Bertahap
Jika hilal memenuhi kriteria visibilitas di suatu tempat sebelum cut-off time global, maka:
Wilayah yang pada maghribnya telah memenuhi syarat astronomi minimum → masuk bulan baru.
Wilayah yang belum memenuhi → mengistikmalkan bulan menjadi 30 hari.
Model ini menghasilkan garis tanggal qamariyah dinamis yang mengikuti geometri bulan, bukan garis tetap seperti IDL sipil.
4.2 Cut-Off Time Rasional
Penetapan batas waktu global (misalnya berbasis UTC) diperlukan untuk mencegah ekstremitas, tetapi tidak boleh mengabaikan kondisi astronomi lokal.
5. Keunggulan Model
Menghindari konflik antara globalitas dan realitas astronomi.
Mencegah kasus “hilal negatif tetapi sudah masuk bulan baru”.
Lebih mudah diterima kawasan timur bumi.
Tetap menjaga arah menuju unifikasi global.
Selaras dengan prinsip ilmiah dan maqashid syariah (kepastian dan keteraturan).
6. Implikasi Fikih dan Astronomi
Secara fikih, model ini tidak menyalahi prinsip ru’yah karena:
Tetap berbasis pada keberadaan hilal yang sah secara astronomi.
Tidak memaksakan keberlakuan pada wilayah yang belum memenuhi syarat.
Secara astronomi, model ini konsisten dengan fakta bahwa fase bulan adalah fenomena geometris yang bergantung pada posisi relatif matahari-bulan-pengamat.
7. Kesimpulan
Unifikasi kalender Hijriah merupakan kebutuhan umat Islam modern. Namun globalitas tidak boleh mengabaikan realitas geometris hilal di setiap lokasi.
Model KHGT-AL menawarkan sintesis:
Global dalam koordinasi, lokal dalam validitas astronomi.
Pendekatan ini menjaga semangat persatuan tanpa mengorbankan prinsip ilmiah dasar bahwa suatu wilayah tidak dapat memasuki bulan baru sebelum mengalami kelahiran hilal secara astronomis.
Catatan Kaki
Dalam model ini, awal bulan ditentukan pada wilayah yang pertama kali memenuhi kriteria visibilitas hilal secara astronomis. Keberlakuannya kemudian meluas mengikuti dinamika rotasi bumi, tanpa bergantung pada batas Garis Tanggal Internasional kalender Gregorian. Sistem ini sepenuhnya berbasis geometri matahari–bulan–bumi dalam kerangka kalender qamariyah.
ARTIKEL LAIN
Kajian Ilmiah - Problematika Epistemologis dalam Konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT): Tinjauan Kritis atas Relasi QDL dan IDL
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-problematika.html
Kajian Ilmiah - Gerhana Bulan 3 Maret 2026 dan Isu 14 atau 15 Ramadhan: Telaah Astronomis dan Fikih Kalender Komariah
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-gerhana-bulan-3-maret.html
Kajian Imiah - HISAB DAN RUKYAT: DUA METODE, SATU LANDASAN ILMIAH (Telaah Epistemologis dan Astronomis atas Penetapan Awal Bulan Hijriah)
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-imiah-hisab-dan-rukyat-dua.html
Kajian Ilmiah - Dinamika Implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT): Analisis Astronomis dan Fikih atas Potensi Perbedaan Internal
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-dinamika-implementasi.html
Kajian Ilmiah - Analisis Ilmiah Penentuan Awal Ramadhan 1447 H Terkait Isu Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-analisis-ilmiah-penentuan.html
Kajian Ilmiah - Perkiraan 1 Ramadhan 1447 H di Indonesia: Tinjauan Berbagai Metode Penetapan Awal Bulan
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2026/02/kajian-ilmiah-perkiraan-1-ramadhan-1447.html
Kajian Ilmiah - Penyebab Perbedaan Penetapan Hari-Hari Besar Islam di Indonesia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-penyebab-perbedaan.html
Kajian Ilmiah - Menentukan Masuknya Waktu Dzuhur dengan Bayangan Matahari
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-menentukan-masuknya-waktu.html
Kajian Ilmiah - Tantangan Kalender Hijriyah Global Tunggal
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-tantangan-kalender.html
Kajian Ilmiah - Penentuan Arah Kiblat dengan Metode Great Circle
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/penentuan-arah-kiblat-dengan-metode.html
Kajian Ilmiah - Ilmu Astronomi dalam Islam
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-ilmu-astronomi-dalam-islam.html
Kajian-ilmiah-Mengenal Kalender Aboge
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/08/kajian-ilmiah-mengenal-kalender-aboge_7.html
Kajian Ilmiah - Panjang Bayangan Waktu Dzuhur di Beberapa Kota di Dunia
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/panjang-bayangan-waktu-dhuhur-di.html
Kajian Ilmiah - Memahami Penetapan Awal Waktu Shalat Ashar
https://sakudin-fisika.blogspot.com/2025/06/memahami-penetapan-awal-waktu-shalat.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar