Sabtu, 07 Januari 2017

SERI BUMI DATAR? BAGIAN 23 : BUKTI EMPIRIS REVOLUSI BUMI

Teori geosentris pertama kali diajukan oleh Aristoteles Abad 4 SM dan mencapai bentuk standarnya yang dibukukan dalam “Almagest” karya Ptelomeus dari Mesir abad 2 Masehi.  Di dalam teori geosentris bentuk bumi adalah bulat dan menjadi pusat perputaran planet, matahari dan bintang-bintang. Teori ini dipercaya dan dianut di masa sesudahnya oleh peradaban Islam jaman keemasan dan peradaban barat di Eropa sampai munculnya teori heliosentris abad 15 Masehi.

Berdasarkan data observasi pergerakan planet dan matahari, dengan bumi dijadikan sebagai kerangka acuan pengamatan, ditemukan lintasan planet  yang meliuk-liuk atau retrograde. Kesulitan menjelaskan lintasan planet  yang meliuk-liuk pada teori geosentris adalah penyebab manusia berusaha merekontruksi ulang pemahaman terhadap bentuk dan susunan alam semesta

Lintasan planet dalam teori geosentris adalah seperti ini.


Perhatikan gambar.  Warna kuning adalah lintasan matahari, warna merah lintasan planet Mars dan warna orange lintasan planet Jupiter.

Lintasan retrograde ini sudah disadari oleh Ptolemeus, Bapak Geosentris. Dalam “Almagest” karya ptelomeus dijelaskan lintasan retrograde ini dengan menambahkan gerak epicycle dan diferent pada setiap planet. Gerak diferent adalah gerak yang merupakan orbit utama sedangkan epicycle adalah sub orbit pada orbit utama.  Seperti ini ilustrasi gerak planet pada teori geosentris yang dijelaskan dalam Almagest.


Namun jika kita  menganggap matahari berada di pusat perputaran, bumi dan planet-planet mengitarinya diperoleh lintasan yang lebih sederhana berbentuk lingkaran tidak sempurna atau ellips. Lintasan yang sederhana ini dijelaskan dalam teori heliosentris. Silakan lihat gambar perbandingan antara geosentris dan heliosentris berikut ini.


Perhatikan gambar.  Bulatan kuning adalah matahari dan bulatan biru adalah bumi, bulatan yang lain adalah planet lainnya.

Pengetahuan tentang lintasan retrograde planet pada teori geosentris bukanlah pengetahuan yang baru diketahui saat ini.  Jauh sebelum Copernicus mengajukan teori heliosentris manusia sudah tahu akan hal itu.  Ptolemeus sendiri sudah menyadari akan hal itu.  Manusia sudah sejak lama melakukan observasi pada pergerakan benda-benda langit. Sudah sejak lama manusia bisa membedakan mana planet dan mana bintang.  Itulah mengapa sejak zaman Phytagoras sampai sekarang sangat sulit mencari ilmuwan yang berpandangan bumi berbentuk datar, sebab dari data observasi ini saja dengan berpikir paling sederhana sekalipun tidak akan mungkin bisa terjadi seandainya bumi berbentuk datar.

Pada zaman keemasan peradaban Islam berdiri observatorium di Maragha dan Samarkand.  Dari mempelajari data pengamatan di observatorium inilah Nashiruddin Al Tusi (lahir 1201 M) dan Ali Qushji ( lahir 1403 M) lebih condong ke heliosentris dari pada geosentris.  Itulah mengapa ada pandangan bahwa teori heliosentris Copernicus dipengaruhi oleh peradaban Islam walaupun Copernicus sendiri mengaku mendapat pengaruh dari Phytagoras.  Sudah kita ketahui bersama bahwa saat peradaban di barat sedang mulai menonjol, banyak karya-karya ilmuwan Muslim yang dijadikan rujukan oleh ilmuwan barat

Teori heliosentris diajukan oleh Nicolaus Copernicus.  Dalam teori ini matahari dijadikan sebagai pusat pergerakan planet.  Bumi menjadi salah satu planet yang mengitari matahari.  Galileo menjadi salah seorang pendukung heliosentris setelah menemukan 4 satelit yang mengorbit Jupiter.  Dalam teori geosentris tidak dijelaskan gaya apa yang membuat planet-planet dan matahari bergerak.  Sedangkan dalam heliosentris dijelaskan bahwa pergerakan planet mengelilingi matahari akibat gaya gravitasi.  Hukum Kepler dan Hukum Newton ikut memberi kontribusi yang besar terhadap kemapanan teori heliosentris. Hingga saat ini teori heliosentris lebih dapat diterima manusia dari pada geosentris.  

Geosentris dan bumi datar adalah dua hal yang amat sangat berbeda.  Apalagi teori bumi datar yang ada saat ini.  Saya tertarik menulis seri bumi datar ini bukan bermaksud untuk mendebat.  Karena teori bumi datar ini benar-benar sangat tidak ilmiah. Yang mengajukan dan penggemarnya pun amat sangat kurang faham dalam hal sains terutama ilmu fisika.  Saya tertarik karena bermaksud ingin mengembalikan kesadaran sahabat-sahabat yang akibat kekurangfahaman dalam sains, malas mencari informasi dan enggan untuk bertanya menjadi mudah terpengaruh oleh video bumi datar yang sebagian besar berisi teori konspirasi.

Di dalam video bumi datar ada pernyataan “pergerakan planet-planet mengelilingi bumi menghasilkan pola geometri suci”.  Dalam  konteks bumi datar kalimat ini jelas-jelas bertentangan.  Bisakah planet mengelilingi bumi pada model bumi datar berkubah?  Mengelilingi itu artinya yang dikelilingi dijadikan sebagai pusat perputaran.  Pada model bumi datar saat ini, planet dan benda langit lainnya bergerak di atas bumi, bukan mengelilingi bumi.  Lalu dari mana mereka mendapatkan data observasi pergerakan benda langit pada bumi datar sehingga bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu? 

Bila konteksnya adalah pergerakan planet pada teori geosentris, maka pembuat video datar ini sebenarnya tidak punya orientasi.  Sebenarnya mereka mau mengajukan teori bumi datar atau mendukung geosentris.  Apakah pembuat video menganggap bumi datar dan geosentris adalah sama?  Bila memang demikian, inilah kekeliruan fatal yang kesekian dari pembuat video bumi datar.  Bila ada sahabat yang menganggap demikian, silakan belajar lagi. silakan cari literatur tentang geosentris.

Pola geometri suci yang dimaksud mungkin adalah pergerakan retrograde pada geosentris.  Namun bukti ilmiah lebih mendukung pergerakan sederhana pada heliosentris.  Bukti bahwa bumi mengelilingi matahari dapat dirasakan langsung oleh manusia yaitu berupa gejala yang timbul misalnya pergantian musim dan lainnya.  Bukti secara empiris sangat diperlukan untuk memberikan kepastian bahwa memang benar bumi bergerak mengelilingi matahari.  Pada pembahasan kali ini akan dijelaskan bukti bahwa bumi tidaklah diam di posisinya, tapi mengalami perpindahan.  Silakan ikuti pembahasannya.


Paralaks Bintang

Paralaks bintang bisa juga disebut stellar parallax adalah perubahan sudut yang dibentuk oleh bintang dekat dengan bintang jauh yang dilihat oleh manusia di bumi akibat posisi bumi yang berubah.  Konsepnya, ketika kita melihat dua benda dari posisi yang berbeda, di mana benda yang satu dekat dan lainnya jauh kita akan mendapatkan perbedaan sudut kedua benda tersebut.

Untuk lebih memahami silakan ikuti percobaan sederhana berikut.  Letakan jari telunjuk sahabat 10 cm di depan muka. Pandanglah ke depan, jadikan pemandangan di depan sebagai latar belakang.  Cari objek apa saja di latar belakang misalnya pohon atau tiang listrik.  Sekarang tutuplah mata kiri, lihatlah posisi jari telunjuk terhadap objek di latar belakang tadi.  Lalu tukarlah, mata kiri dibuka dan mata kanan ditutup dan lihatlah posisi jari telunjuk terhadap objek di latar belakang tadi, ada perbedaan bukan?  Nah itulah konsep paralaks.   

Bumi yang berubah posisi juga akan menghasilkan paralaks pada bintang yang dekat terhadap bintang-bintang yang jauh. Sudut paralaks ini sangat kecil, karena jarak bintang sangat jauh dari bumi.  Semakin jauh jarak bintang semakin kecil sudutnya.  Perhatikan ilustrasi gambar di bawah ini.


Akibat bumi berevolusi terhadap matahari menyebabkan kedudukan bumi yang bergeser di kiri dan di kanan matahari. Ini akan menyebabkan terjadinya sudut paralaks pada bintang yang dekat saat dilihat dari dua kedudukan yang berbeda.

Untuk mengukur sudut paralaks bintang yang dijadikan target dibutuhkan waktu sekitar 6 bulan atau setengah tahun.  Observasi dilakukan dua kali dalam rentang waktu 6 bulan. Jika menginginkan hasil maksimal pengukuran harus dilakukan pada tanggal tertentu di mana posisi bumi bergeser paling jauh dalam lintasan ellips.

Orang pertama yang berhasil mengukur sudut paralaks bintang adalah FW Bessel tahun 1838.  Dengan peralatan yang disebut heliometer Bessel berhasil mengukur sudut bintang 61 Cygni sebesar 0,28 detik busur atau sekitar 3,57 parsec.  Selanjutnya seiring dengan kemajuan teknologi semakin banyak orang yang bisa mengukur paralaks bintang, misalnya bintang Alpha Centauri yang merupakan bintang terdekat dengan bumi memiliki sudut paralaks 0,77 detik.  Saat ini sudah ratusaan bintang yang sudah diketahui sudut paralaksnya.  Dengan mengetahui sudut paralaks maka jarak bintang bisa ditentukan.

Adanya paralaks bintang ini membuktikan bahwa bumi berpindah posisi alias tidak diam di tempat.  Bukti empiris ini menjadi bukti yang sangat akurat bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari. Ini juga sekaligus membantah teori geosentris.

Aberasi bintang

Di samping membuktikan bumi bergerak berpindah posisi, aberasi bintang juga membuktikan bahwa bumi berotasi.  Bagi sahabat yang masih kesulitan memahami mengapa rotasi bumi tidak menimbulkan efek yang berarti di permukaan bumi, saya ada sedikit cerita.  Di dalam cerita ini juga sekaligus akan memberikan gambaran fenomena aberasi bintang.

Cerita ini terjadi saat dalam perjalanan dengan mobil di tol Cipali.  Setelah istirahat di rest area ternyata ada nyamuk yang masuk ke dalam mobil.  Awalnya nyamuk itu hinggap di dashboard mobil.  Saat mobil sedang melaju dengan kecepatan konstan 100 km/jam nyamuk itu terbang dengan leluasa di dalam mobil.  Sepertinya nyamuk ini sama sekali tidak terpengaruh dengan kecepatan mobil yang sedang melaju kencang.  Mengapa bisa demikian?  Mengapa nyamuk tidak tertinggal dan akhirnya membentur kaca belakang mobil?

Sebenarnya jawaban dari pertanyaan di atas amat sederhana.  Dan bagi sahabat yang pernah mengenyam bangku SMP pasti sudah pernah mempelajarinya.  Mungkin banyak sahabat yang sudah lupa.  Mari kita mengulang lagi pelajaran fisika di SMP.  Ada hukum Newton pertama tentang kelembaman.  Dalam hukum itu dijelaskan benda yang diam akan tetap diam sampai ada gaya yang menggerakannya, dan benda yang sedang bergerak lurus dengan kelajuan konstan akan tetap bergerak sampai ada yang menghentikannya.  

Nyamuk yang sedang hinggap di dashboard pada mobil yang melaju dengan kecepatan 100km/jam memiliki kecepatan yang sama dengan mobil.  Sesuai dengan hukum kelembaman, saat lepas dari dashboard nyamuk pun masih tetap memiliki kecepatan ke depan 100km/jam.  Dengan kecepatan yang dimiliki sama dengan kecepatan mobil, nyamuk pun bisa terbang ke sana kemari dengan leluasa dan tentunya tidak akan tertinggal ke belakang atau membentur kaca belakang mobil.

Begitu juga dengan rotasi bumi.  Selain efek sentrifugal kecil yang ditahan oleh gaya gravitasi dan efek lainnya yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya, rotasi bumi tidak akan menimbulkan efek apapun bagi benda atau makhluk yang ada di permukaan bumi sampai atmosfirnya. Dan tentunya manusia tidak akan merasakan apapun selain dari pergerakan semu harian matahari, bulan dan bintang-bintang. Dengan penjelasan ini semoga sahabat mendapat pemahaman yang lebih baik.

Cerita perjalanan di tol Cipali berlanjut.  Saat itu hujan deras, petir sepertinya juga ikut memberi warna perjalanan.  Air hujan berebut ingin sampai dulu ke bumi pertiwi.  Wiper penghapus air hujan di kaca mobilpun menari-nari dengan riangnya.  Lampu kabut pun merengek-rengek minta dinyalakan.  Dari dalam mobil terlihat air hujan datangnya seperti dari arah depan bukan dari atas. Sepertinya hendak menembus kaca depan mobil dan menyapa penumpang yang ada di dalamnya.  

Nah sahabat, dari cerita itu ada sebuah fenomena yaitu saat kita sedang bergerak, air hujan yang sejatinya datang dari atas akan terlihat seperti condong dari depan.  Sebenarnya air hujan datangnya dari atas dan jika tidak ada angin kencang jatuhnya akan tegak lurus ke bumi.  Bagi pengamat yang diam akan melihat air jatuhnya tegak lurus.  Namun bagi pengamat yang sedang bergerak, jatuhnya air hujan akan terlihat miring.  Bahkan jika pengamat melaju ke depan dengan kecepatan yang lumayan air hujan akan terlihat datang dari depan seperti saat sedang di dalam mobil yang melaju kencang.

Bila sahabat belum pernah mengamati atau belum ngeh dengan air hujan yang datang dari depan ketika mobil melaju kencang, silakan perhatikan orang yang sedang berpayung ria saat berjalan menerobos hujan.  Saat berjalan dalam hujan dengan payung kemungkinan orang akan mencondongkan payungnya ke depan.  Hal ini dilakukan untuk menghindari air hujan karena bagi orang yang sedang berjalan air hujan jatuhnya akan miring walaupun sebenarnya tegak lurus.  Atau saat sahabat sedang mengendarai sepeda motor sewaktu hujan, tentu akan merasakan air hujan datangnya menyudut bukan tegak lurus.  Fenomena ini di sebut dengan aberasi.

Bumi yang sedang bergerak mengelilingi matahari pun akan memiliki fenomena yang sama dengan air hujan tersebut.  Bagi pengamat di bumi akan terjadi aberasi bintang karena pengamat sedang bergerak bersama bumi.  Pengamat di bumi akan melihat posisi bintang yang bergeser sedikit dari posisi sebenarnya. 


Perhatikan gambar.  Saat pengamat sedang diam, pengamat akan melihat bintang pada posisi A.  Ketika pengamat bergerak ke arah B maka pengamat akan melihat bintang pada posisi A’.  Ada perbedaan sudut yang kecil. Orang yang pertama kali menemukan fenomena aberasi bintang adalah James Bradley tahun 1725 M.  Di samping karena revolusi bumi, aberasi bintang juga terjadi karena rotasi bumi.

Adanya fenomena aberasi bintang ini membuktikan bahwa bumi tidaklah diam tapi bergerak.  Pergerakan bumi mengelilingi matahari tentu akan menimbulkan aberasi yang bervariasi ketika seorang pengamat mengamati sebuah bintang. Sudut aberasi sebuah bintang bergantung dari arah dan kecepatan relatif bumi terhadap bintang tersebut.

Efek Doppler

Efek Doppler adalah berubahnya frekuensi gelombang bagi pengamat akibat gerak relatif antara pengamat dengan sumber.  Efek ini ditemukan oleh Doppler tahun 1842 M . Efek Doppler dirumuskan seperti berikut ini,


Keterangan :

fp  = frekuensi yang diterima pengamat (Hz)
fs  = frekuensi sumber  (Hz)
v = cepat rambat gelombang (m/s)
vp = kecepatan pengamat (m/s)
vs =kecepatan sumber (m/s)

Tanda + (plus)      
Untuk pengamat bergerak mendekati sumber
Untuk sumber menjauhi pengamat

Tanda -   (minus)
Untuk pengamat menjauhi sumber
Untuk sumber mendekati pengamat

Dari rumus efek Doppler bisa kita simpulkan bahwa frekuensi gelombang akan naik ketika pengamat mendekat relatif terhadap sumber dan akan turun ketika pengamat menjauh relatif terhadap sumber.  Mendekat relatif artinya dalam selang waktu tertentu pengamat dan sumber semakin mendekat, bisa karena sumbernya yang mendekat atau pengamat yang mendekat atau keduanya sama-sama bergerak yang hasilnya mendekat.

Efek Doppler berlaku bukan hanya untuk gelombang suara tapi juga gelombang elektromagnetik seperti cahaya.  Cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang dapat dilihat oleh mata. Cahaya memiliki spektrum warna dari merah, jingga, kuning, hijau, sampai biru mendekati ungu.  Warna cahaya ini ditentukan oleh panjang gelombang atau frekuensi cahaya.   Warna merah memiliki frekuensi terendah sedangkan warna biru mendekati ungu memiliki frekuensi tertinggi. 

Ketika seorang pengamat bergerak relatif terhadap sebuah sumber cahaya maka pengamat akan melihat pergeseran warna sumber cahaya tersebut.  Saat pengamat mendekat relatif terhadap sumber cahaya maka pengamat akan melihat cahaya dengan frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi sumber. Dengan kata lain pengamat akan melihat pergeseran warna menuju ke arah biru “blueshift”.  Sebaliknya ketika pengamat menjauh relatif terhadap sumber maka pengamat akan melihat pergeseran warna menuju ke arah merah “redshift”

Begitu juga dengan bumi yang sedang bergerak mengelilingi matahari.  Pengamat di bumi akan melihat warna bintang yang bergeser kadang menuju ke warna biru dan kadang menuju ke warna merah.  Saat bumi mendekati sebuah bintang warna cahaya bintang akan bergeser  ke arah biru dan saat menjauhi bintang warna bintang akan bergeser ke arah merah.  Untuk sebuah bintang kejadian ini berulang setiap tahun atau dalam 6 bulan terjadi blueshift dan 6 bulan berikutnya terjadi redshift.  Hal ini membuktikan bahwa bumi tidaklah diam tetapi bergerak bolak-balik.  Ini juga menjadi bukti ilmiah yang akurat bahwa bumi tidaklah diam di tempat.

Penutup

Bukti-bukti empiris rotasi dan revolusi bumi sebenarya bukan pengetahuan yang baru.  Hal itu sudah diketahui ratusan tahun lalu.  Hanya saja mungkin pengetahuan ini belum sampai ke kita.  Mungkin karena kita yang malas mencari informasi. Sebenarnya informasi yang menerangkan hal ini amat sangat banyak dan mudah didapatkan.  Namun kendalanya ada pada diri kita sendiri.  Saya yakin di sekolah pun hal ini paling tidak sudah pernah diajarkan.

Sahabat, kali ini saya akan beropini, namun opini saya berdasarkan data yang pernah saya dapatkan.  Beginilah opini saya, pada tahun-tahun mendatang penguasaan atas dunia akan mengarah ke langit.  Artinya bagi siapa saja yang bisa menguasai langit merekalah yang akan memimpin dan menguasai dunia.

Di dalam Al-Quran Allah SWT memotivasi manusia agar dapat menguasai langit dengan cara mempelajari sains dan teknologi.  Semoga sahabat muslim faham dengan ayat tersebut.  Silakan renungkanlah, bagaimana kita bisa menguasai langit, sedangkan satelit saja kita tidak percaya, pergerakan roket saja kita bingung, pendaratan manusia di bulan saja kita masih belum mengakui, dan hal sederhana seperti balon helium terbang saja kita tidak faham apa penyebabnya dan yang paling parah mengukur suhu cahaya bulan.

Saran saya buat sahabat muslim bila ingin berteori tentang bentuk alam semesta pelajarilah sains.  Jangan seperti saat ini, ilmu fisika, astronomi dan geografi saja kita belum faham betul sudah berteori tentang gravitasi, bumi datar, matahari dekat, mengukur suhu cahaya bulan dsb.  Lebih baik belajar dulu dengan pemahaman yang benar.  Jadi teori yang kita kemukakan bernilai ilmiah bukan dongeng.

Saya khawatir justru teori yang demikian malah menyesatkan sesama kita.  Bukankah kita sadar bahwa pahala yang selalu mengalir adalah ilmu yang berguna bukan ilmu yang menyesatkan.  Untuk itu sahabat ku berhati-hatilah dalam berteori.  Berlakulah jujur dalam menyampaikan ilmu, jangan menutupi dan memutarbalikkan fakta.  Bagaimana hukumnya orang yang menyampaikan ilmu dengan kecurangan yang akhirnya malah menyesatkan sesamanya?

Beberapa kali saya membaca web bantahan bumi datar yang membongkar kecurangan pembuat video bumi datar.  Saya memiliki data dan setelah saya cek memang demikian adanya. Namun dalam menulis seri bumi datar ini saya berusaha menghindari hal yang demikian.  Saya lebih fokus kepada bantahan bumi datar dari segi sains.  Walaupun ada beberapa web penggemar bumi datar yang sepertinya juga melakukan hal yang sama tetapi saya anggap itu hanya karena ketidakfahaman semata bukan karena kesengajaan.

Semoga bermanfaat dan membuka wawasan.

20 komentar:

Geo Sentris mengatakan...

Sanggahan geocentrist:

1. Untuk model tata surya, paralaks dan aberasi model geocentric yang sekarang dipakai adalah Neo-Tychonic dimana Bumi di pusat semesta dikelilingi bulan dan matahari sementara planet-planet lainnya mengelilingi matahari. Silahkan dipelajari. Secara geometri tidak ada yang berubah. Efek yang sama pun seperti retrogade, epicycle dan lain-lain juga menampilkan lintasan yang sederhana.

2. Efek doppler tidak muncul bila pengamat yang mendekati sumber suara/cahaya. Efek doppler hanya bisa terjadi bila sumber yang menjauhi/mendekati pengamat yang mana hal ini justru membuktikan bahwa blueshift/redshift-nya bintang yang terlihat adalah karena pergerakan bintang itu sendiri terhadap bumi.

ILMU KUCARI mengatakan...

Mas Geosentris terima kasih atas pengetahuan yang disampaikan dalam komentar. Tadinya saya tidak terlalu fokus pada Geosentris Tychonic, karena teori ini kurang populer dari pada geosentris Ptelomy. Dan Teori ini sudah lama ditinggalkan oleh para astronom dan ilmuwan karena bukti empiris lebih mengarah kepada bumi mengelilingi matahari.

Namun ternyata ada juga penganut Neo Tychonic mampir ke blog saya. Terima kasih Mas saya jadi terpacu untuk lebih mendalami Geoheliosentris Tychonic dan juga Neo Tyconic yang muncul belakangan. Agak sulit mendapatkan artikel yang membahas faham tersebut. Untungnya di Wikipedia ada hal yang membahas model geoheliosentris Tychonic dalam Bahasa Inggris. Sementara untuk yang Neo-Tychonic lebih sulit lagi mendapatkannya, paling hanya ada di forum diskusi yang mungkin saja lebih dominan faktor subjektifnya.

Jika kita baca Wikipedia yang membahas Model Tychonic kita bisa mengerti model ini adalah kompromi antara Geosentris Ptelomy dan Heliosentris Copernicus makanya kadang di sebut geoheliosentris. Dan kita bisa tahu juga bahwa beberapa hal yang mendasari model ini di antaranya adalah bahwa Tycho Brahe ‘menuntut’ adanya paralaks bintang pada model heliosentris Copernicus dan Tycho Brahe masih gamang dengan rotasi bumi. Namun saat ini kita boleh bertanya seandainya Tycho Brahe masih hidup apakah dia masih mempertahankan modelnya dengan sudah ditemukannya paralaks bintang dan bukti empiris bahwa bumi berotasi?

Dan bagi saya adalah sesuatu yang lucu ketika penganut Neo Tychonic mengklaim paralaks bintang ke dalam model yang dimodifikasi. Sesuatu hal yang ketika belum ditemukan dijadikan landasan keberatan namun ketika ditemukan malah berkelit karena tidak sudi mengakui kelemahannya. Apakah itu akibat tambahan kata Neo? Saya jadi punya keyakinan subjektif, seandainya Tycho Brahe masih hidup tentu dia akan berlepas tangan dari para Neo-nya.

Berikut ini saya kutip artikel dari Wikipedia berbahasa Inggris yang sudah diterjemahkan
“Sehubungan dengan bintang-bintang, Tycho juga percaya bahwa jika Bumi mengorbit Matahari setiap tahun, harus ada paralaks bintang yang dapat diamati selama periode enam bulan, di mana orientasi sudut bintang yang diberikan akan berubah berkat perubahan posisi Bumi”

Silakan lihat artikel lengkapnya di Wikipedia dan Anda akan mengerti sebenarnya Tycho lebih condong ke mana.

Sebenarnya apa sih esensi paralaks bintang pada model geosentris? Bukankah ada hal yang jauh lebih penting yang harus dibuktikan yaitu zat Ether. Geosentris dibangun dengan pondasi zat ether, namun sampai saat ini zat ether belum ditemukan. Artinya geosentris hanyalah sebatas hipotesa, sangat jauh berbeda dengan heliosentris yang bukti empirisnya sudah banyak sekali. Itulah mengapa astronom, ilmuwan dan sebagian besar masyarakat dunia lebih percaya bahwa bumi mengelilingi matahari. Dan itulah yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Bersambung...

ILMU KUCARI mengatakan...

Ada hal menarik ketika saya membaca sebuah forum diskusi tentang Neo-Tychonic. Seorang berfaham Geosentris mengeluarkan pernyataan seperti ini pada seorang berfaham Heliosentris.

“Anda seorang heliosentrist tulen...karena sejak SD sudah diajarkan begitu...maklum”

Pernyataan ini mirip dengan apa yang sering diucapkan oleh para penggemar bumi datar.
Bagi saya ini adalah sebuah penghinaan karena itu adalah bentuk pelecehan terhadap intelektualitas seseorang. Orang yang mengatakan itu jelas menghina seluruh manusia yang memahami bumi mengelilingi matahari karena intelektualitasnya. Dan menurut saya itu akibat sikap paranoid dan buruk sangka yang menganggap sains adalah kebohongan dan ilmuwan adalah pembohong.

Mohon maaf saya ingin mendalami model Neo Tychonic silakan dijawab pertanyaan saya berikut ini,

Pertama tentang rotasi bumi. Apakah teori ini menyatakan bumi tidak berotasi? Kalau memang tidak berotasi bagaimana menjelaskan satelit GEOstasionary yang mengorbit dengan posisi tidak berubah di atas suatu lokasi di bumi. Bagaimana juga menjelaskan satelit MEO dan LEO misalnya ISS yang bisa diprediksi posisinya secara tepat dengan perhitungan bumi berotasi. Orbit satelit mengikuti hukum gravitasi Newton dan gerak melingkar, amat mudah menghitung secara matematis. Dan satelit memang sengaja diorbitkan dengan kepatuhan terhadap hukum-hukum sains. Maaf saya percaya anda tidak menolak adanya satelit, namun jika anda menolak satelit, apakah berarti saya sedang berdiskusi dengan penganut teori konspirasi?

Kedua tentang orbit matahari. Mohon dijelaskan gaya apa yang membuat matahari dengan massa yang jauh lebih besar bisa mengorbit bumi. Silakan dihitung secara matematis panjang lintasan, kecepatan dan gaya yang dihasilkan (benda bergerak melingkar akan menghasilkan gaya yang jika tidak ditahan dari pusat lingkarannya akan terlempar). Apakah ini sesuai dengan waktu edar matahari mengelilingi bumi? Ini adalah hal yang amat penting karena dalam heliosentris, kombinasi hukum Gravitasi Newton dan Hukum Keppler mampu menjelaskan orbit planet termasuk bumi mengelilingi matahari dan ini sesuai dengan data observasi kecuali orbit merkurius yang sedikit menyimpang yang juga sudah dijelaskan dalam teori relativitas Einstein.

Mohon maaf kalau jawaban anda karena ether, itu baru sekedar hipotesa. Apakah anda lebih menerima hipotesa dari pada bukti empiris? Dan apapun jawaban anda, bumi dan matahari akan saling tarik-menarik berdasarkan hukum gravitasi Newton dan Anda harus memperhitungkannya kecuali jika anda menolak hukum gravitasi Newton seperti para penggemar bumi datar.

Bersambung....

ILMU KUCARI mengatakan...

Ketiga tentang hisab waktu shalat. Hisab waktu shalat dapat menghitung dengan tepat ketinggian matahari di suatu tempat, pada tanggal dan jam tertentu. Perhitungan hisab waktu shalat ini berdasar pada bumi berotasi dan berevolusi. Bisakah hal tersebut dilakukan pada model yang anda percayai? Atau sudah adakah orang yang melakukannya? Jika anda seorang Muslim bagaimana anda menentukan waktu shalat? Apakah anda ngikut saja dengan jadwal waktu shalat yang ada saat ini?

Saya sarankan Anda harus membuat jadwal waktu shalat sendiri berdasarkan model alam semesta yang saat ini anda percayai. Soal nanti hasilnya sama atau beda itu urusan lain. Yang penting harus dilakukan sesuai dengan model teori Anda. Ada seorang komentator di blog saya yang mengklaim bahwa jika dihitung di model geosentris hasilnya sama. Mohon jangan menjawab seperti itu, karena itu baru sekedar dugaan alias Omdo dan belum terbukti. Bagaimana bisa waktu shalat ditentukan berdasarkan dugaan saja.


Saya sangat penasaran dengan pernyataan anda tentang efek Doppler. Anda menyatakan bahwa pengamat yang mendekati atau menjauhi sumber tidak akan menimbulkan efek Doppler. Ini jelas bertentangan dengan rumus efek Doppler itu sendiri dan tentunya juga bertentangan dengan bukti percobaan yang saya yakin sudah banyak orang yang melakukan. Jika memang pernyataan anda ini benar tentu akan terjadi “GEGER SAINS” karena ada rumus Fisika yang salah. Jadi siapa yang benar Anda atau seluruh Fisikawan dan ilmuwan di dunia ini?

Atau silakan Anda sebutkan siapakah orang yang telah membuktikan bahwa efek Doppler tidak terjadi ketika pengamat mendekati atau menjauhi sumber. Jika memang ada maka itu akan berhadapan dengan banyaknya percobaan yang membuktikan sebaliknya. Ini seperti orang yang melakukan percobaan pengukuran arus dan hasilnya tidak sesuai dengan hukum ohm lalu sesumbar bahwa hukum ohm salah, atau percobaan Bedford Level pada teori bumi datar yang hasilnya bertentangan dengan fakta umum fenomena kapal tenggelam di horizon.

Nah itu saja, saya hanya memberi bahan masukan buat Anda. Intinya kita harus belajar lebih giat lagi agar mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan tidak keliru. Semoga menjadi hal yang bermanfaat buat kita bersama dan pembaca pada umumnya.

Geo Sentris mengatakan...

Soal Tychonic

Tidak benar model Tychonic adalah kompromi antara sistem Ptolemic dan Copernicus. Selama 40-an tahun, Brahe melakukan observasi sendiri pergerakan planet-planet sebelum membuat model Tychonic. Sepeninggalnya Brahe, bawahannya yang bernama Keppler, menggunakan data-data Brahe dan menciptakan sistem Kepplerian.

Soal Neo-Tychonic

Pada masa Brahe, belum ditemukan paralaks dan model Tychonic lama, lingkupnya terbatas pada tata surya saja. Sehingga ketika ditemukan paralaks, sistem Tychonic dianggap gagal. Padahal, tidak. Modifikasi pada sistem Tychonic hanyalah dengan mengubah lingkup yang awalnya hanya tata surya saja menjadi keseluruhan semesta.

Soal paralaks

Pada ilustrasi paralaks Anda di atas, kondisi latar belakang dan mataharinya diam, sementara bumi berevolusi. Kebalikan dalam sistem geocentric (model Tychonic), latar belakang dan mataharinyalah yang berputar mengitari bumi yang diam. Hasilnya sama saja. (Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=K8uJ1e2CRhY)

Soal Ether

Ether dalam fisika bukanlah substansi asing. Ether adalah substansi pengisi kevakuman yang menjadi media perambatan cahaya dan gravitasi.

Dalam Fisika Kuantum, beberapa eksperimen telah dilakukan untuk membuktikan ini, seperti di CERN dengan Large Hadron Collider-nya. Jadi, ini bukanlah hipotesa.

Pakar fisika, Robert B. Laughlin dalam bukunya, "A Different Universe: Reinventing Physics from the Bottom Down," halaman 121 menulis:

"It turns out that such matter [ether] exists. About the time relativity was becoming accepted, studies of radioactivity began showing that the empty vacuum of space had spectroscopic structure similar to that of ordinary quantum solids and fluids. Subsequent studies with large particle accelerators have now led us to understand that space is more like a piece of window glass than ideal Newtonian emptiness. It is filled with 'stuff' that is normally transparent but can be made visible by hitting it sufficiently hard to knock out a part. The modern concept of the vacuum of space, confirmed every day by experiment, is a relativistic ether."

Soal rotasi bumi

Dalam geocentrism, bumi tidak berotasi tidak pula be-revolusi. Bumi diam di tengah pusat semesta.

Bersambung...

Geo Sentris mengatakan...

Soal geostationary

Dalam sistem geocentric, bumi adalah sebagai kerangka acuan diam, sedangkan ruang angkasa adalah kerangka acuan yang berputar siang dan malam. Karakteristik bumi adalah membuat benda-benda tertarik ke dalam dengan gaya gravitasinya. Sementara, karakteristik ruang angkasa adalah membuat benda-benda menjauh dengan gaya sentrifugalnya, karena perputarannya. Jadi ketika suatu objek dijauhkan dari bumi dan mulai kehilangan pengaruh gravitasi bumi, kerangka acuan ruang angkasa akan mengambil alih dan akan membuat objek ini "hanyut" mengikuti perputaran siang dan malam.

Dalam jarak tertentu dari bumi, sekitar 35000-an kilometer, kedua gaya dari kedua kerangka acuan ini, gravitasi dan sentrifugal, saling counter-balance dimana ruang angkasa tidak bisa menarik objek ikut berputar bersamanya karena ditahan oleh gravitasi bumi. Begitu pula sebaliknya, bumi tidak bisa menarik objek ke dalam karena ditahan oleh gaya sentrifugal. Maka, terjadilah efek stasioner.

Soal massa matahari yang besar mengelilingi bumi yang bermassa kecil

Dalam Newtonian, tidak benar bahwa massa yang kecil akan selalu mengelilingi massa yang lebih besar. Yang benar adalah, akan selalu mengelilingi pusat massa atau pusat gravitasi (center of mass).

Pusat massa atau pusat gravitasi ini tidak selalu berada pada objek yang bermassa besar. Tapi, juga bisa saja ditempat yang kosong asalkan memang disitu terjadi keseimbangan. Contoh, barycenter pada sistem binary stars (lihat: https://en.wikipedia.org/wiki/Barycenter).

Ibarat seseorang mencoba menyeimbangkan nampan di atas ujung telunjuknya, sementara di atas nampan terdapat beberapa objek dengan massa yang berbeda, posisi telunjuk tidak harus di tengah nampan (secara geometri) tapi ditengah keseimbangan semua massa-massa tersebut. Silahkan pelajari masalah pusat massa ini (lihat: https://en.wikipedia.org/wiki/Center_of_mass)

Untuk kasus matahari dan bumi, tentu saja bila lingkupnya hanya dua objek ini, bumi akan mengelilingi matahari. Dan hukum Newton bisa diterapkan di sini. Tapi untuk alam semesta secara keseluruhan, lingkup sempit ini tidak bisa dipakai dan hukum newton untuk dua objek tidak bisa diterapkan. Karena bukan hanya 9 planet dalam tata surya, semua objek bermassa akan memberikan kontribusi untuk terbentuknya pusat massa di suatu tempat di alam semesta. Dan bumi Allah ciptakan berada di pusat massa tersebut, tidak bergerak.

Hal ini sangat memungkinkan dan bukanlah hal yang mustahil. Newton sendiri pun mengakui. Dalam bukunya, "Philosophiae Naturalis Principia Mathematica," Proposition X, Hypothesis I:

"That the center of the system of the world is immovable: this is acknowledged by all, although some contend that the Earth, others that the sun, is fixed in that center."

Soal hisab shalat

Tidak salah rasanya bila ada yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan perhitungan antara model geocentric (Tychonic) dan heliocentric untuk waktu shalat. Karena, secara geometri tidak ada perbedaan sama sekali. Yang berbeda hanya sudut pandang saja (lihat: https://www.youtube.com/watch?v=Sw5mHY7NqC8)

Kalau bicara kemudahan, justru lebih mudah mengamati sesuatu yang bergerak ketika si pengamat diam daripada mengamati sesuatu yang diam ketika si pengamat bergerak.

Ketika bergerak, yaitu bumi, komponen seperti: rotasi, revolusi dan kemiringan harus dimasukkan ke dalam parameter. Ini lebih sulit ketimbang hanya memasukan parameter kemiringan matahari sebagai objek yang diamati untuk kemudian dipetakan dalam siklus tahunannya.

In fact, untuk kemudahan, perhitungan waktu shalat itu berdasarkan observasi terhadap posisi matahari dengan mengabaikan pergerakan bumi (lihat: https://en.wikipedia.org/wiki/Sun_path).

Di situs Kemenag juga begitu, posisi matahari. Rotasi dan revolusi bumi tidak disinggung sama sekali (lihat: http://sihat.kemenag.go.id/berita/detail/6-POSISI-MATAHARI-DAN-PENENTUAN-JADWAL-SALAT)

Bersambung...

Geo Sentris mengatakan...

Soal efek Doppler

Maaf, soal efek Doppler, ini adalah pernyataan pancingan. :)

Sering saya dapati, heliocentrist menggunakan ilmu fisika untuk mengklaim sesuatu yang sebenarnya ilmu fisikanya sendiri tidak mengklaim itu. Contoh yang paling sering muncul, salah satunya, adalah efek Doppler.

Saya mencoba mengklaim dari sudut pandang saya sebagai geocentrists, bahwa efek Doppler hanya terjadi karena pergerakan sumber, bukan pengamat. Sama seperti klaim anda, sebagai heliocentrist, bahwa efek Doppler terjadi karena pergerakan bumilah terhadap bintang-bintang. Harapannya, Anda bisa mengkoreksi saya bahwa penyebab efek Doppler itu relatif sifatnya. Sayangnya, tidak.

Yang ingin saya tekankan disini adalah istilah relatif. Relatif maksudnya adalah baik sumber yang bergerak dan pengamat yang diam, atau sumber yang diam dan pengamat yang bergerak, atau bahkan kedua-duanya bergerak (dalam konteks menjauh dan mendekat), efek Doppler akan muncul.

Jadi, kenapa menggunakan efek Doppler sebagai bukti heliocentrism sementara penyebab efek Doppler itu sendiri relatif?

Akhir kata, mari kita sama-sama belajar. :)

ILMU KUCARI mengatakan...

Terima kasih atas pengetahuan yang disampaikan. Dengannya saya jadi semakin mengerti mengapa astronom dan ilmuwan lebih memilih bumi mengitari matahari daripada matahari mengelilingi bumi. Namun semua itu dikembalikan kepada diri kita masing-masing. Dalam blog ini penilaian juga dikembalikan kepada sahabat yang mungkin sempat membaca diskusi ini, mana yang bukti empiris, mana yang teori tanpa bukti, mana yang baru hipotesa dan mana yang cocoklogi.

Masalah Tycho : hanya masalah perbedaan sumber bacaan saja, saya mengambil sumber dari Wikipedia.

Soal Paralaks : Itu hanya dibalik saja (silakan barangkali ada sahabat pembaca yang mau menilai)

Masalah Ether adalah masalah yang diperdebatkan keberadaannya oleh para ilmuwan. Kalau mau menganggap sudah ada buktinya ya silakan.

Soal matahari mengelilingi bumi itu berarti bumi atau daerah di sekitar bumi menjadi pusat gravitasi, ini belum ada bukti empirisnya. Dibandingkan bumi mengelilingi matahari jelas sudah ada hitungannya berdasar hukum Gravitasi Newton dan Hukum Keppler dan hasilnya peredaran bumi mengelilingi matahari sekitar 1 tahun.

Soal hisab waktu shalat, di situ ada yang namanya sudut deklinasi matahari dan equation of Time. Itu dihitung berdasar revolusi bumi dengan hukum gravitasi Newton dan Hukum Keppler. Depag tidak membahas revolusi Bumi karena sudah memasukkan nilai deklinasi matahari dan equation Of Time ke dalam rumusnya, jadi tidak perlu lagi menyebut revolusi bumi. Silakan dikonfirmasi. Silakan lihat artikel saya “Waktu Shalat 212”. Jadi dalam geosentris apa pengganti Equation Of Time tersebut? Silakan dihitung jangan hanya teori atau omdo. Masa waktu shalat cuma berdasar melihat video Youtube dan rapal mantra “Jikalau”. Jika setelah dihitung hasilnya sama, ITU BARU NAMANYA BUKTI.

Soal efek Doppler . Jarak bintang-bintang adalah amat sangat jauh dari bumi. Dan gerakan bintang adalah gerakan mengorbit pusat galaksinya yang lintasannya amat sangat panjang. Bintang yang sedang bergerak menjauhi bumi maka dalam jangka waktu ratusan, ribuan hingga jutaan tahun akan terus menjauh. Begitu juga bintang yang sedang mendekati bumi. Silakan perhatikan rumus efek Doppler. Pada bagian pembilang (atas) ada plus minus kecepatan pengamat dan pada bagian penyebut (bawah) ada plus minus kecepatan sumber. Karena kecepatan sumber selalu plus atau selalu minus dalam jangka waktu yang sangat lama maka plus minus hanya terjadi pada kecepatan pengamat akibat revolusi bumi sehingga terjadilah Efek Dopler pada bintang. Jika buminya diam maka tidak akan terjadi redshit dan blueshift bintang secara bergantian. Yang terjadi adalah redshift terus atau blueshift terus.

Kalau anda belum yakin silakan simulasikan dengan dua jari telunjuk. Telunjuk kiri bergerak dalam satu arah ke mana saja dan telunjuk kanan bergerak bolak-balik ke mana saja. Maka anda akan mendapatkan gerak relatif kedua jari telunjuk anda yang kadang menjauh dan kadang mendekat. Masih belum yakin? Jadi ilmu Fisika mana yang tidak mengklaim Efek Doppler untuk membuktikan revolusi bumi? Apakah itu kesimpulan subjektif anda sendiri?

Bersambung

ILMU KUCARI mengatakan...

Yang paling menarik bagi saya adalah masalah satelit dan Rotasi Bumi
Pertama masalah Satelit Geostasionary. Satelit adalah benda teknologi yang sengaja diorbitkan untuk mengelilingi bumi tidak terkecuali satelit GEO. Dengan hitungan matematis berdasarkan hukum Gravitasi Newton dan Gerak Melingkar, untuk menghasilkan kecepatan angular yang sama antara bumi dan satelit maka satelit harus diorbitkan pada ketinggian sekitar 35.000km. Dan angka ini kebetulan sangat COCOK dengan angka yang anda terangkan dalam teori anda. Sayangnya anda tidak menyebutkan dari mana anda mendapatkan angka tersebut, saya khawatir sahabat pembaca akan menyebut itu adalah COCOKLOGI, jadi silakan disebutkan dari mana angka tersebut muncul.

Sepertinya anda juga harus mengkonfirmasi badan atau lembaga yang mengorbitkan satelit. Silakan ditanyakan, Satelit GEO diorbitkan untuk mengelilingi bumi atau ditempelkan begitu saja di ketinggian 35.000km. Monggo silakan dikonfirmasi pada ahli satelit. Jika anda memang berniat belajar, lebih baik anda melakukan konfirmasi tersebut atau setidaknya bertanya dan mencari informasi tentu pada orang yang memiliki kompetensi masalah satelit, misalnya orang LAPAN.

Kedua masalah satelit MEO dan LEO. Satelit MEO dan LEO dapat dipantau posisinya, bahkan peredaran satelit ISS sudah dibuatkan aplikasinya agar siapa saja bisa memantau. Untuk menghitung di mana posisi satelit ini berada tentu harus melibatkan rotasi bumi. Lagi-lagi saya sarankan anda melakukan konfirmasi, tanyakan peredaran satelit dihitung berdasar bumi diam atau berotasi?. Silakan konfirmasi ke LAPAN. LAPAN juga memiliki satelit LEO. Itu jika anda memang berniat ingin belajar.


Ketiga masalah ruang angkasa berputar. Pada batas sekitar 35.000km menurut anda di bagian atas ruang angkasanya berputar dan di bagian bawahnya tidak. Ini sangat menarik bagi saya. Kecepatan linear benda yang berada sedikit di atas 35.000km akibat terseret ruang angkasa yang berputar adalah sekitar 3.000 m /detik (dihitung berdasar kecepatan satelit GEO).

Sekarang mari kita bayangkan berada di dalam mobil yang sedang melaju, tiba-tiba ada gaya dari samping yang menyebabkan kecepatan ke samping mobil bertambah sebesar 3000m/detik apa yang akan terjadi? Berdasarkan hukum kelembaman maka kita yang berada di dalam mobil akan terbentur ke samping dengan kecepatan yang hampir sama. Dan efeknya jauh lebih dahsyat daripada tubuh kita dijatuhkan dari puncak gunung setinggi 5 km.

Manusia telah mampu mendarat di bulan dan mengirim wahana ke planet Mars dan bulan. Ini tentu lebih tinggi dari 35.000km. Nah sekarang silakan dibayangkan ketika Apollo mencapai perbatasan dan tiba-tiba terseret ruang angkasa yang berputar apa yang akan terjadi? Kelembaman akan meluluh lantakan isi Apallo. Sudah pasti misi Apollo akan “GAGAL TOTAL” karena misi tersebut tidak memperhitungan teori anda. Namun apa kenyataannya? Pernahkah ada misi ke ruang angkasa yang gagal di ketinggian 35.000km akibat tidak memperhitungkan pusaran ruang angkasa? Atau pernahkah anda mendengar berita bahwa untuk mencapai bulan atau mars maka harus diperhitungkan angkasa yang berputar? Jadi ruang angkasa berputar jelas teori yang tidak terbukti. Pantas saja tidak ada ilmuwan dan astronom yang percaya teori tersebut.

ILMU KUCARI mengatakan...

Membalik heliosentris menjadi geosentris sesungguhnya tidaklah mudah. Dan itu justru akan menimbulkan beberapa permasalahan yang harus dijelaskan.

Pertama masalah Rasi Bintang.
Penyebab berubahnya rasi bintang sudah saya jelaskan di artikel saya, silakan dilihat. Kalau ada yang bilang rasi bintang tidak berubah itu adalah hoaks. Saya sudah membuktikan sendiri adanya perubahan rasi bintang. Dalam geosentris tentu harus dijelaskan gerakan seperti apa dan penyebab geraknya yang membuat adanya perubahan rasi bintang.

Kedua sudut deklinasi matahari
Sudut deklinasi matahari berubah dalam periode satu tahun dan menyebabkan perubahan musim. Penyebabnya karena sumbu rotasi bumi yang miring 23 derajat terhadap bidang revolusinya. Tentunya dalam geosentris juga harus dijelaskan gerakan matahari seperti apa dan penyebab geraknya yang membuat sudut deklinasi matahari. Jika kita gambar bentuk lintasan matahari adalah spiral dengan periode satu tahun. Masalahnya apa yang menyebabkan gerak tersebut?

Ketiga equation of Time
Equation of time adalah perata waktu akibat berubahnya waktu kulminasi matahari di suatu lokasi. Equation of time terjadi karena orbit bumi berbentuk elips. Silakan lihat penjelasan dan hitungan matematikanya di Wikipedia. Dan dalam geosentris juga harus dijelaskan apa yang menyebabkan perubahan waktu kulminasi matahari di suatu lokasi.

Untuk ketiga permasalahan tersebut saya hanya sharing informasi saja. Tapi kalau anda mau menjelaskan ya silakan. Itulah mengapa saya mendorong anda untuk membuktikan hisab waktu shalat berdasar geosentris sebab banyak variable yang harus dijelaskan misalnya deklinasi matahari dan equation of time. Jadi jangan sembarangan mengatakan jika menggunakan geosentris hasilnya sama, ini waktu shalat loh, tidak bisa main-main.

Sekali lagi saya mengajak sahabat, mari kita belajar dan bertanya pada orang yang memang memilki kompentesi di bidangnya. Saya yakin jika kita ikhlas belajar sungguh-sungguh akan mengerti bahwa bumilah yang mengelilingi matahari. Bagi sahabat yang kebetulan membaca silakan dinilai mana yang lebih baik pembuktiannya, bumi mengelilngi matahari atau matahari mengeliingi bumi.

ILMU KUCARI mengatakan...

Mas Geo sentris, semoga masih memonitor.

Silakan lihat artikel terbaru saya tentang Equation Of Time. Saya merasa terpanggil untuk membantu mas Geo sentris untuk lebih memahami bentuk alam semesta sekarang ini yang sudah umum difahami oleh manusia.


Saya baru saja mempelajari paralaks bintang pada model Geosentris. Mohon dijawab pertanyaan saya. Jika gerakan bintang adalah mengikuti Aether berarti gerakannya adalah seragam. Hal ini tidak akan membuat adanya paralaks, kecuali ada gerakan lain dari bintang. Mohon dijawab gerakan apa itu dan apa penyebabnya.
Mohon jangan dijawab karena respon bintang berbeda-beda terhadap aether. Itu adalah jawaban orang putus asa. Sama saja menjawab "dari sononya memang begitu"
Monggo silakan dijawab.




Geo Sentris mengatakan...

"Dengannya saya jadi semakin mengerti mengapa astronom dan ilmuwan lebih memilih bumi mengitari matahari daripada matahari mengelilingi bumi."

Astronom dan ilmuwan memilih heliocentrism karena akidah/keyakinan, yang dikenal sebagai Copernican Principle, bukan karena bukti-bukti ilmiah. Apa yang Anda anggap sebagai bukti ilmiah, seperti di artikel ini, bisa dibantah dengan mudah.

Mengenai Copernican Principle, silahkan baca:

https://en.wikipedia.org/wiki/Copernican_principle

"Dibandingkan bumi mengelilingi matahari jelas sudah ada hitungannya berdasar hukum Gravitasi Newton."

Hukum gravitasi Newton hanya berlaku untuk dua objek. Lihat saja rumusnya: F = G * M1 * M2 / r².

Bicara semesta, butuh rumus yang lebih kompleks dari itu. Bahkan untuk 3 objek saja sampai sekarang masih sulit ditemukan solusinya, silahkan baca:

https://en.wikipedia.org/wiki/Three-body_problem

"Depag tidak membahas revolusi Bumi karena sudah memasukkan nilai deklinasi matahari dan equation Of Time ke dalam rumusnya, jadi tidak perlu lagi menyebut revolusi bumi."

Fokusnya pada deklinasi matahari, bukan kemiringan bumi. Kalau bicara persepsi, ini sudah bicara dari sudut pandang sistem geocentric dimana mataharilah yang miring terhadap bumi, bukan bumi yang miring terhadap matahari.

"Jadi dalam geosentris apa pengganti Equation Of Time tersebut?"

Equation of Time tidak perlu diganti. Karena, memang tidak ada kebutuhan untuk itu.

Yang perlu diganti adalah, akidah dibalik penyebab Equation of Time tersebut, yaitu, akidah heliocentrism yang menyatakan bahwa bumi yang miring 23°.

Di sistem geocentric, mataharilah yang miring 23° terhadap bidang ekuator bumi yang mana kemiringan ini membentuk bidang yang dikenal sebagai Ecliptic Plane. Karena sudut datang cahaya matahari ke permukaan bumi berbeda-beda setiap harinya maka menyebabkan perbedaan waktu. Sehingga, perlu ada Equation of Time. Ilustrasi:

http://image.ibb.co/hjhEVw/ecliptic_plane.jpg

Dan Equation of Time itu dibuat dari sudut pandang bumi yang diam dimana observasi terhadap posisi matahari yang berbeda-beda dalam setahun yang dijadikan dasar perhitungan. Bukan dari sudut pandang matahari, dimana kemiringan bumi yang diamati.

Secara nalar, pengamat di bumi tidak bisa mengamati bumi tempat yang ia diami, dia hanya bisa mengamati ke luar.

"Soal efek Doppler . Jarak bintang-bintang adalah amat sangat jauh dari bumi. Dan gerakan bintang adalah gerakan mengorbit pusat galaksinya yang lintasannya amat sangat panjang. Bintang yang sedang bergerak menjauhi bumi maka dalam jangka waktu ratusan, ribuan hingga jutaan tahun akan terus menjauh. Begitu juga bintang yang sedang mendekati bumi."

Di heliocentric, jarak bumi-matahari dihitung sebagai 1 AU. Dari jarak ini ketika bumi mengelilingi matahari, dia akan menjauhi-mendekati bintang-bintang sejarak itu pula sehingga muncul efek Doppler.

Di geocentric, berlaku sebaliknya. Sebagaimana ilustrasi dalam model Tychonic, matahari mengelilingi bumi dan planet-planet selaras mengelilingi matahari. Di model Neo-Tychonic, bintang-bintang selaras dengan matahari dalam mengelilingi bumi dengan radius 1 AU sebagai pivotnya. Ilustrasi:

http://image.ibb.co/iFuZxb/doppler_tychonic.jpg

Dari ilustrasi di atas, anggap posisi 1 sebagai posisi awal. Saat menuju posisi 2, mulai terjadi blueshift karena mendekati bumi. Saat menuju posisi 3, blueshift mencapai puncaknya. Saat menuju posisi 4, mulai terjadi reshift karena menjauhi bumi. Dan saat kembali ke posisi 1, redshift mencapai puncaknya.

Geo Sentris mengatakan...

"Dengan hitungan matematis berdasarkan hukum Gravitasi Newton dan Gerak Melingkar, untuk menghasilkan kecepatan angular yang sama antara bumi dan satelit maka satelit harus diorbitkan pada ketinggian sekitar 35.000km."

Kata kuncinya gerak melingkar dan kecepatan angular.

Di sistem geocentric, akibat gerak melingkar muncul gaya sentrifugal. Tapi tidak di sistem heliocentric dimana gaya sentrifugal itu anggap fiktif. Baca:

https://en.wikipedia.org/wiki/Fictitious_force

Di sistem geocentric, ketika berada dalam kerangka acuan ruang angkasa yang berputar dan satelit ikut berputar bersamanya, satelit mengalami gaya sentrifugal = Fs = m * ω² * r = m * (4π²/t²) * r.

Selain gaya sentrifugal, satelit juga mengalami gaya gravitasi akibat gaya tarik bumi = Fg = G * M * m / r².

Agar satelit stasioner, gaya sentrifugal harus sama dengan gaya gravitasi:
Fs = Fg
m * (4π²/t²) * r = G * M * m / r²
(4π²/t²) * r = G * M * / r²
r³ = G * M * / (4π²/t²)
r³ = G * M * t² / (4π²)

Bila:
G = konstanta gravitasi = 6,674E-11 m³/(kg*s²)
M = massa bumi = 5,97E+24 kg
t = waktu perputaran ruang angkasa sehari semalam = sidereal time = 23 jam 56 menit 4 detik = 86164 s

Maka:
r³ = 6,674E-11 * 5,97E+24 * 86164² / (4 * 3,14²)
r³ = 6,674E-11 * 5,97E+24 * 7424234896 / (4 * 9,8596)
r³ = 7,50055E+22
r = ³√ 7,50055E+22
r = 42172658,91 m

Karena r dihitung dari pusat bumi, maka untuk mendapatkan tinggi (h) satelit dari permukaan bumi harus dikurangi dengan kedalaman bumi, sebesar: 6371000 m.

h = r - 6371000
h = 42172658,91 - 6371000
h = 35801658,91 m = 35800 km.

"Satelit MEO dan LEO dapat dipantau posisinya, bahkan peredaran satelit ISS sudah dibuatkan aplikasinya agar siapa saja bisa memantau. Untuk menghitung di mana posisi satelit ini berada tentu harus melibatkan rotasi bumi. Lagi-lagi saya sarankan anda melakukan konfirmasi, tanyakan peredaran satelit dihitung berdasar bumi diam atau berotasi?"

Sebenarnya, aplikasi pemantauan satelit lebih mudah dengan menganggap bumi diam, istilahnya, Earth-centered Inertial (ECI). Ini kata Wikipedia:

"It is convenient to represent the positions and velocities of terrestrial objects in ECEF coordinates or with latitude, longitude, and altitude. However, for objects in space, the equations of motion that describe orbital motion are simpler in a non-rotating frame such as ECI. The ECI frame is also useful for specifying the direction toward celestial objects."

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Earth-centered_inertial

Software dari JPL yang dipakai NASA pun demikian. Seperti dikatakan engineer GPS, Ronald Hatch, "Conducting a Crucial Experiment of the Constancy of the Speed of Light Using GPS" tahun 2002:

"NavCom Technology, Inc. has licensed software developed by the Jet Propulsion Lab (JPL) which, because of historical reasons, does the entire computation in the ECI frame."

PDF-nya:

http://web.stcloudstate.edu/ruwang/ION58PROCEEDINGS.pdf

"Manusia telah mampu mendarat di bulan dan mengirim wahana ke planet Mars dan bulan. Ini tentu lebih tinggi dari 35.000km. Nah sekarang silakan dibayangkan ketika Apollo mencapai perbatasan dan tiba-tiba terseret ruang angkasa yang berputar apa yang akan terjadi?"

Kata kuncinya adalah "tiba-tiba".

Imajinasi soal "tiba-tiba" ini yang merusak.

Objek yang keluar dari bumi tidak "tiba-tiba" bisa dipengaruhi kerangka acuan ruang angkasa yang berputar. Karena, masih ada gravitasi bumi yang meng-cancel. Ketika semakin jauh dari bumi, semakin lemah gravitasi, barulah perlahan kerangka acuan ruang angkasa mengambil alih.

Geo Sentris mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Geo Sentris mengatakan...

"Jadi ruang angkasa berputar jelas teori yang tidak terbukti. Pantas saja tidak ada ilmuwan dan astronom yang percaya teori tersebut."

Ruang angkasa sebagai kerangka acuan yang berputar sudah ada buktinya. Dari sejak percobaan Michelson-Morley pada tahun 1887 yang gagal membuktikan revolusi bumi mengelilingi matahari, namun kemudian Michelson-Gale pada tahun 1925 malah berhasil membuktikan adanya rotasi sidereal. Rotasi tanpa revolusi adalah bukti bahwa ruang angkasa itu berputar.

Lalu di tahun 2009, Michael Longo menemukan bahwa galaksi-galaksi spiral di luar angkasa itu berputar seragam, yang ini hanya bisa terjadi jika ruang angkasa itu berputar. Ilustrasi:

http://image.ibb.co/fyYrAw/galaxies_handedness.jpg

PDF-nya:

https://arxiv.org/ftp/arxiv/papers/0707/0707.3793.pdf

"Jika gerakan bintang adalah mengikuti Aether berarti gerakannya adalah seragam. Hal ini tidak akan membuat adanya paralaks, kecuali ada gerakan lain dari bintang. Mohon dijawab gerakan apa itu dan apa penyebabnya."

Gerakan mengikuti ether adalah gerakan diurnal (harian). Sementara paralaks itu terjadi dalam siklus annual (tahunan).

Dari bumi, perbedaan sudut pandang antara matahari, bintang dan background bintang lain yang lebih jauhlah yang menyebabkan terjadinya paralaks. Selain proper motion, perbedaan sudut pandang annual ini terjadi karena bintang dan background berada dalam satu bidang yang selaras dengan matahari ketika mengelilingi bumi setiap tahunnya. Animasinya:

https://gfycat.com/gifs/detail/IdioticShockingBluebird

ILMU KUCARI mengatakan...

Kalau menurut anda bukti yang dikemukakan para ilmuwan dan astronom itu tidak ilmiah ya silakan. Berarti begitu banyaknya bukti empiris, juga kesesuaian antara data observasi dengan perhitungan matematis adalah bukan hal yang ilmiah, dan mudah dibantah menurut anda. Namun menurut saya tidaklah demikian Ilmuwan yang bertahun-tahun mendedikasikan dirinya pada sains tentu lebih mengerti mana yang bukti ilmiah dan mana yang mudah dibantah. Dan bila bukti empiris bumi berotasi dan mengelilingi matahari memang mudah dibantah tentu sebagian besar ilmuwan tidak akan memilih bumi mengelilingi matahari. Saat ini masalah geosentris dan heliosentris adalah masalah tingkat keilmiahannya (walaupun dulunya ada faktor lain), jadi mana yang lebih ilmiah dan memiliki banya bukti empiris dan juga kesesuaian data observasi dengan perhitungan matematis itulah yang dipilih.

Alam semesta memang memilki rumus yang sangat kompleks. Namun ketika perhitungan matematis untuk satu hal misalnya peredaran bumi dan planet-planet mengelilingi matahari itu sangat seusai dengan data observasi maka itu adalah hal yang mustahil bila terjadi secara kebetulan. Karena probabilitas kejadian “sesuai” tersebut amat sangat kecil, mengingat begitu kompleksnya alam semesta. Bagi orang yang berfikir ilmiah tentu bisa menerima bukti seperti ini. Dan faktanya hal ini sudah diterapkan untuk orbit satelit yang jelas-jelas dibuat untuk mengelilingi bumi di alam semesta yang kompleks.

Equation Of Time
Silakan baca artikel saya tentang Equation Of time. Equation of Time terjadi karena kemiringan sumbu rotasi bumi dan orbit bumi yang berbentuk ellips. Perhitungan secara matematis pada model tatasurya saat ini sangat sesuai dengan data observasi perhari selama setahun. Sudah pasti kesesuaian ini bukanlah hal yang kebetulan mengingat alam semesta ini sangat kompleks. Mungkin anda perlu juga mencobanya di model geosentris agar anda bisa membandingkan mana yang lebih ilmiah.

Sudut deklinasi matahari
Apakah maksud anda orbit matahari mengelilingi bumi miring 23.5 derajat terhadap bidang equator? Jika demikian maka kita akan melihat gerakan harian matahari adalah timur barat plus utara selatan. Kenyataannya itu adalah gerakan tahunan. Setengah tahun matahari ada di utara dan setengah tahun ada di selatan equator. Gerakan tahunan ini bukanlah bidang tapi berbentuk selimut tabung dengan ketinggian seperempat diameter bumi. Jadi model seperti itu tidak seusai dengan fakta.

Hisab Waktu Shalat
Hisab waktu shalat memasukan rumus deklinasi matahari dan eqution of time. Jika kita lihat di web DEPAG di situ ada program yang dibuat oleh Prof. dari LAPAN, di program itu tentu memasukan dua variable tersebut. Sayangnya tidak dijelaskan ALGORITMAnya. Tapi jika anda ingin mengetahui algoritmanya, ada skripsi atau tesis yang dibuat oleh Mahasiswa UIN yang membahasnya, silakan dicari.

Efek Doppler
Pola blueshift-redshift itu tahunan, bukan harian. Dalam model geosentris, jika gerakan bintang selaras dg gerakan matahari maka blueshift-redshift akan berganti-ganti tiap hari. Apakah faktanya demikian? Silakan dikonfimasi pada ahli observasi perbintangan, pergantian redshift-blueshift suatu bintang terjadi setiap hari atau tidak.

ILMU KUCARI mengatakan...

Satelit MEO dan LEO
Perhitungan posisi satelit MEO, LEO bisa dilakukan dengan menganggap bumi itu diam. Matematika memang begitu. Itu adalah permisalan di dalam model matematika. Seperti dua benda yang sama-sama sedang bergerak bisa dihitung posisi satu terhadap lainnya dengan memisalkan benda yang satu diam. Persoalannya bukan pada mudah atau sukarnya menghitung dengan pemodelan bumi diam atau berotasi, tapi pada faktanya bumi berotasi atau tidak.

Baik bumi diam maupun berotasi, Kecepatan satelit sudah jelas bisa dihitung dan tidak ada hubungannya dengan kecepatan rotasi bumi. Hasil perhitungan posisi satelit terhadap lokasi di bumi tentu akan berbeda antara bumi diam dan bumi berotasi. Itulah yang saya maksud. Jadi tinggal ditanyakan saja pada ahli dan praktisi satelit.

Orbit GEO dan rotasi bumi
Angka 35.000 km yang anda hitung itu adalah perhitungan satelit GEO yang sengaja dibuat unutk mengelilingi bumi. Mohon please..silakan konfirmasi ke orang yang mengerti satelit. Satelit GEO sengaja dibuat untuk mengelilingi bumi atau diletakkan begitu saja di ketinggian 35.000Km. Sekali lagi tolong dikonfirmasi. Ini adalah pembuktian yang amat sederhana dan kita tidak perlu berbantah-bantahan.

Anda menggunakan Ilmu Fisika yang mana, jika benda masih terpengaruh gravitasi maka tidak akan terseret oleh gaya dari samping?

Dua gaya Itu pasti akan menghasilkan resultan gaya yang efeknya pasti sangat dirasakan oleh Apolo dan wahana yang menuju keluar angkasa.

ILMU KUCARI mengatakan...

Paralaks bintang
Pengukuran paralaks bintang seperti yang dilakukan oleh Satelit Hipparcos seperti berikut, selama setengah tahun pertama sudut paralaks akan terus bertambah dan mencapai maksimum, nilai maksimum ini yang disebut sudut paralaks bintang, lalu setengah tahun berikutnya akan berkurang dan kembali menjadi 0 setelah 1 tahun. Itu terjadi pada semua bintang yang sudah diukur sudut paralaksnya. Kesimpulannya paralaks bintang itu memiliki pola yang jelas pada semua bintang yang diukur yaitu sudut paralaks semakin membesar dalam masa sampai 6 bulan dan mengecil kembali sampai 0 enam bulan berikutnya.

Paralaks tidak terjadi akibat rotasi bumi, begitu juga tidak akan terjadi akibat gerak selaras bintang yang mengikuti matahari dalam waktu 24 jam. Ini adalah hal yang mudah dipahami.

Jika kita terapkan pada model geosentris maka bintang yang diukur harus melakukan percepatan selama setengah tahun saat bergerak selaras bersama matahari agar posisinya bergeser dari latar dan melakukan perlambatan selama setengah tahun agar kembali ke posisi semula. Ini harus berlaku untuk semua bintang yang sudah diukur yang jumlahnya sudah sangat banyak. Dan jika demikian kita pun patut menduga bahwa semua bintang di latar pun melakukan hal yang sama, melakukan percepatan dan perlambatan dalam periode 1 tahun. Jika demikian masih bisakah latar dijadikan acuan? Ini akan semakin rumit. Di samping kerumitan gerakan, juga sulit menjelaskan gaya apa yang membuat bintang-bintang melakukan gerakan seperti itu dan juga peluang terjadinya hal seperti itu adalah amat sangat kecil mengingat ada periode 1 tahun yang harus berlaku untuk gerak semua bintang agar sesuai dengan pola hasil pengamatan. Jika ada pergerakan yang tidak mengikuti pola tersebut maka sudut paralaks bisa bertambah setelah lewat waktu 6 bulan atau malah berkurang sebelum 6 bulan.

Hal seperti inilah yang menyebabkan ilmuwan yang berfaham geosentris di masa lalu dengan kaedah ilmiah dan ilmunya, sangat mengerti dan memahami bahwa paralaks bintang tidak akan terjadi di dalam model geosentris. Justru mereka menuntut adanya paralaks bintang pada model heliosentris sebagai bukti yang paling sahih. Galileo dianggap gagal karena tidak bisa membuktikan paralaks bintang. Bahkan Tycho Brahe sendiri percaya bahwa jika bumi mengitari matahari maka harus ada paralaks bintang dalam pengukuran selama 6 bulan.

Dan nyatanya setelah paralaks bintang ditemukan, model Geosentris ditinggalkan oleh para ilmuwan dan astronom sampai saat ini. Apalagi saat ini bukti ilmiah dan kesesuaian data observasi sudah semakin banyak. Dan sudah diterapkan misalnya pada bidang GEODESI, yang harus memperhitungkan efek Eotvos akibat rotasi bumi, pada pengukuran gravitasi.

Semoga penjelasan tentang paralaks bintang tersebut menjadi pencerahan, dan bisa membandingkan mana yang lebih bisa diterima.

Oh ya Mas. Saya yakin tujuan anda mampir ke blog saya adalah ingin belajar. Untuk itu tolong konfirmasi ke orang yang mengerti satelit misalnya LAPAN, agar anda bisa membuktikan bumi berotasi atau tidak. Ini adalah pembuktian yang amat sederhana.

Dan Mohon maaf dengan sangat, jika kita hanya berbantahan-bantahan saja, saya pikir sudah cukup. Bukti ilmiah apapun bagi anda tidaklah ilmiah, jadi sampai kapanpun tidak akan bermanfaat buat anda dan saya. Jika seperti itu sebaiknya kita sudahi saja diskusi ini. Tidak perlu ditanggapi pernyataan saya di atas. Dan tidak perlu berbantahan lagi.

Namun jika anda ingin belajar, silakan tanyakan dulu ke orang yang mengerti satelit. Tidak perlu khawatir jawabannya akan mementahkan teori bumi tidak berotasi. Karena memang tujuan kita adalah belajar dan akan dengan senang hati menerima kenyataan. MOHON MAAF ATAS SEMUANYA DAN SELAMAT BELAJAR.

Sani Sanusi mengatakan...

Wah Seru nih, Saya mau tanya yang sederhana saja sama mas Geo Sentris, Jika bumi tidak berotasi, Apakah matahari dan planet2 dan benda angkasa lainya termasuk bintang2 dan galaksi mengelilingi bumi dalam 24 jam? Bagi saya sangat tidak masuk akal karena membayangkan berapa kecepatan keliling yang harus mereka tempuh saat mengitari bumi, terutama bintang2 dan galaksi yang jaraknya jutaan tahun cahaya. trims

Sani Sanusi mengatakan...

"Sahabat, kali ini saya akan beropini, namun opini saya berdasarkan data yang pernah saya dapatkan. Beginilah opini saya, pada tahun-tahun mendatang penguasaan atas dunia akan mengarah ke langit. Artinya bagi siapa saja yang bisa menguasai langit merekalah yang akan memimpin dan menguasai dunia."

Saya sangat setuju dengan opini mas Ilmu Kucari diatas. Berita tentang space program saat ini sudah sering terdengar di media. Negara2 maju di benua Amerika, Eropa, dan Asia sudah memiliki program2 angkasa yang prestisius dgn anggaran negara yg tidak sedikit, bahkan Swasta pun ikut meramaikan. Amerika Serikat sudah jelas memimpin, diikuti Rusia, Uni Eropa, Cina, Jepang, India, dan negara2 lainya yang sudah punya space program namun tidak seserius negara2 yang disebutkan. Kenapa negara2 tersebut tetap serius dgn space program? Saya kira ada beberapa hal yang menjadi alasan:
1. Kepentingan ilmu pengetahuan manusia (Science)
2. Kepentingan teknologi (telekomunikasi)
3. Kepentingan militer (pertahanan)
4. Kepentingan reputasi dan kebanggaan nasional
5. Kepentingan sustainability, baik negara/bangsa maupun manusia sebagai species
6. Kepentingan ekonomi masa depan.

Saya kira kepentingan ekonomi adalah yang paling menggiurkan, karena sumber daya alam bumi semakin menipis, sedangkan sumber daya alam di luar bumi begitu melimpah ruah, apalagi sumber daya energy dan mineral. Saya membayangkan jika suatu negara sudah memiliki teknologi yang cukup mapan dan mampu meng-access secara efisien terhadap sumber daya alam luar angkasa, maka negara tersebut akan mendapatkan sumber daya alam tersebut secara gratis, termasuk penguasaan wilayah baru! Kolonisasi ruang angkasa akan terjadi, dan seperti biasa, yang ketinggalan hanya menonton, manggut manggut dan menjadi cheer leader saja..

Saya mengharapkan jika eksplorasi dan exploitasi luar angkasa sudah bertambah maju dan mapan, maka hasil akhir yang diharapkan adalah kehidupan manusia yang lebih baik terjadi di bumi secara keseluruhan. Bumi tidak lagi diekspoitasi besar2an dan diperebutkan, baik sumber daya energy, mineral, maupun hayatinya, industri2 yang menjadi sumber pollutant di pindah ke luar angkasa, pengolahan sampah dan limbah B3 di luar angkasa, dan lain2, maka bumi akan menjadi tempat tinggal yang lebih indah bagi seluruh umat manusia. Semoga mimpi menjadi kenyataan...:-)



SERI BUMI DATAR?

Bukti Empiris Revolusi Bumi + Pengantar
Bukti Empiris Rotasi Bumi + Pengantar
Bukti Empiris Gravitasi + Pengantar

Seri 43 : Bantahan Cerdas Penganut FE3

Seri 42 : Bantahan Cerdas Penganut FE 2
Seri 41 : Melihat Satelit ISS sedang mengorbit Bumi
Seri 40 : Bantahan Cerdas Penganut FE

Seri 39 : Arah Kiblat Membuktikan Bumi Bulat

Seri 38 : Equation Of Time

Seri 37 : Mengenal Umbra Penumbra dan Sudut Datang Cahaya

Seri 36 : Fase Bulan Bukan Karena Bayangan Bumi
Seri 35 : Percobaan Paling Keliru FE
Seri 34 : Analogi Gravitasi Yang Keliru
Seri 33 : Belajar Dari Gangguan Satelit
Seri 32 : Mengapa Horizon Terlihat Lurus?
Seri 31 : Cara Menghitung Jarak Horizon
Seri 30 : Mengapa Rotasi Bumi Tidak Kita Rasakan
Seri 29 : Observasi Untuk Memahami Bentuk Bumi
Seri 28 : Permukaan Air Melengkung
Seri 27 : Aliran Sungai Amazon
Seri 26 : Komentar dari Sahabat
Seri 25 : Buat Sahabatku (Kisah Kliwon menanggapi surat FE101 untuk Prof. dari LAPAN)
Seri 24 : Bukti Empiris Gravitasi
Seri 23 : Bukti Empiris Revolusi Bumi
Seri 22 : Bukti Empiris Rotasi Bumi
Seri 21 : Sejarah Singkat Manusia Memahami Alam Semesta

Seri 20 : Waktu Shalat 212
Seri 19 : Kecepatan Terminal
Seri 18 : Pasang Surut Air Laut
Seri 17 : Bisakah kita mengukur suhu sinar bulan?
Seri 16 : Refraksi
Seri 15 : Ayo Kita Belajar Lagi
Seri 14 : Perspektif
Seri 13 : Meluruskan Kekeliruan Pemahaman Gravitasi
Seri 12 : Teknik Merasakan Lengkungan Bumi
Seri 11 : Gaya Archimedes terjadi karena gravitasi
Seri 10 : Azimuthal Equidistant
Seri 9 : Ketinggian Matahari pada bumi datar
Seri 8 : Bintang Kutub membuktikan bumi bulat
Seri 7 : Satelit Membuktikan Bumi berotasi
Seri 6 : Rasi Bintang membuktikan bumi berputar dan berkeliling
Seri 5 : Gravitasi membuktikan bumi bulat
Seri 4 : Besi tenggelam dan Gabus terapung
Seri 3 : Gaya gravitasi sementara dirumahkan
Seri 2 : Bola Golf jadi Penantang
Seri 1 : Satelit yang diingkari